Sadarku...

Mawar itu sudah mengering. Warnanya yang dulu putih sudah menjadi coklat dan tidak menarik sama sekali. Air di dalam vas sudah tidak bisa mempertahankan keindahannya. Kalau kuberikan pada siapa pun, tidak akan ada yang menginginkannya.



Harus kuapakan?? Buang?? Entah mengapa aku tidak rela. Aku masih ingin mawar itu tetap ada di sana supaya aku tetap bisa terus mengingat siapa yang memberikannya.

Aku masih terpaku, duduk di atas tempat tidurku dan memandang lurus pada mawar kering yang menghiasi meja belajarku. Aku tidak bisa berhenti memandang mawar itu dan semakin lama aku memandangi mawar itu, semakin jelas terbayang wajah yang sudah beberapa lama kukenal. Wajah yang dua minggu lalu masih membuatku merasa berbunga-bunga.

Candanya, tawanya, ceritanya, setiap pujiannya, perlakuannya... Aku merasa seperti wanita yang spesial dibuatnya. Hatiku penuh dan begitu hangat. Seperti ada kupu-kupu yang terus menggodaku dan menari-nari di sekelilingku.

Ah,gadis mana pun akan merasakan hal yang sama jika diperlakukan seperti itu. Aku tidak kebal jika diperlakukan dengan manis dan penuh kasih sayang. Apalagi gadis yang merindukan seorang pasangan sepertiku.

Tidak, aku belum tua. Usiaku baru akan menjelang 20 tahun. Masih sangat muda. Tapi kerinduanku untuk bisa ada seseorang di sisiku begitu menggebu-gebu. Aku  ingin ada seseorang yang mengasihiku dan memperlakukanku dengan sangat spesial. Seperti dia.

Dia... Sekarang bukan kupu-kupu lagi yang ada di sekelilingku setiap kali mengingat dia. Yang ada hanya sayatan luka dan sesak di dada. Rasa malu, tidak percaya, dan pertanyaan yang tidak pernah kutemukan jawabannya. Apa yang salah??

Dia manis padaku. Dia peduli padaku. Tapi kenapa dia tidak memilihku?? Apa yang salah?? Apakah aku telah melakukan tindakan yang salah hingga dia akhirnya memilih gadis lain?? Kenapa??

Biip..Biiip...

Bbku berbunyi, aku meliriknya dan merasa sekelilingku terasa lebih terang saat kulihat nama dia ada di sana.
“ Oiii, apa kabar?? Kok BBM gua ga dibalas?” tanyanya.

Biip. Satu pesan lagi masuk.

“ Gua kangen banget sama lo, gila! Jangan ngilang tiba-tiba dong!”

Hangat, perih, dan sesak...

Apa yang salah denganku?? Aku begitu senang dengan pesannya, tapi juga begitu sakit setiap kali mengingat dia tidak lagi sendirian.

Biippp

“ Nonton yuk. Cewe gw  lagi ga bisa temenin gua. Lo temenin gua ya. Gua kesepian banget neh, butuh lo banget.”

Apa??

Apa...

Apa maksudnya ini?

Pacarnya sedang tidak bisa, lalu mengapa dia mengajakku?? Hanya berdua?? Apakah ajakannya itu pada tempatnya?? Apakah pacarnya tidak akan marah??

Ya Tuhan!! Aku rindu padanya.. Aku  ingin bertemu, tapi... Tepatkah jika aku menerima ajakannya?

Biipp

“ Sayang, bales dooongg. Aku gigit neh kalau ga bales.”
Aku tersenyum sekilas membaca pesannya. Aku benar-benar rindu.

Rindu pada candanya. Rindu pada penggilan itu. Sayang.. Panggilan yang sudah lama tidak kudengar. Panggilan yang kupikir ditujukan hanya untukku, tapi ternyata ditujukan pada banyak teman dekatnya.
Tuhan, tolong aku!!



Aku ingin bertemu, tapi mengapa terasa salah?!! Tuhan, kenapa dia bukan untukku?!!
Kalau memang dia bukan untukku, kenapa kau biarkan dia bersikap manis padaku?? Kenapa Tuhan??
Aku terlanjur sayang padanya. Terlanjur besar kepala dan berpikir dia akan membalas perasaanku. Sekarang aku harus menelan rasa sesak ini. Rasa malu ini.
Oh, Tuhan bersikap adillah padaku. Berikan aku hikmat-Mu. Apa yang harus aku lakukan?!!

Aku memeluk kakiku erat-erat dan menelan rasa sesakku bersama air mataku. Di sana dia mungkin masih tertawa. Dia tidak tahu penderitaanku. Dia tidak tahu hatiku yang patah berkeping-keping. Tidak sama sekali.

 Kenapa dia tegaaaa??!! Kenapa dia begitu tega padaku? Kenapa dia bersikap baik jika tidak tertarik padaku?? Kenapa??

Kenapa pula dia sekarang mengajakku jalan padahal dia sudah memilih seseorang. Kenapa?!! Apa yang ada di kepalanya??

Seandainya..
Seandainya aku jadi pacarnya, apakah dia akan bersikap sama? Pergi dengan teman-teman wanitanya?? Apakah dia akan seperti itu? Punya cadangan dimana-mana??

Cadagangan...
Ya, Tuhan.. Aku bukan cadangan!! Aku bukan cadangan!! Dia tidak bisa datang padaku pada saat dia mau lalu pergi begitu saja! Aku bukan cadangan!

Aku meremas bahuku sendiri mengingat bahwa selama ini aku hanya diperlakukan sebagai ‘ban serep’. Betapa teganya!!

Dia benar-benar tega!!

Aku mengusap air mataku penuh amarah. Aku bangkit berdiri dan menyambar rangkaian mawar kering itu dan hendak membuangnya ke tempat sampah. Tapi lagi-lagi aku tertahan. Aku tidak yakin ingin membuangnya.

Aku masih menyayanginya...

Aku ingin bertem. Tapi kalau aku pergi dan bertemu dengannya, apakah pacarnya tidak akan marah? Tidak akan sedih??

Aku memandang rangkaian mawar di tanganku dan teringat di malam Valentine yang dingin dia datang membawakanku rangkaian mawar putih. Dia cowo pertama yang membawakan bunga untukku. Cowo pertama yang membuatku merasa spesial. Sejak itu aku selalu berharap dia bersikap manis hanya padaku. Bukan pada cewe lain.

Apakah pacarnya mendapat perlakuan yang sama sepertiku? Apakah dia mendapat bunga di hari valentine? Pasti lebih indah dan harum. Apakah dia merasakan hal yang sama sepertiku?? Apakah dia merasa spesial dan hanya ingin dirinya yang diperlakukan spesial??

Kalau memang dia berharap seperti itu, berarti dia salah karena aku mendapat perlakuan yang khusus juga. Ya... Dia salah...

Aku kembali memandang mawar di tanganku dan seolah terbangun, aku menghampiri cermin. Di sana bayanganku terlihat sangat hancur berantakan. Rambutku yang biasanya tertata rapi sekarang kusut dan tak beraturan. Mataku bengkak dan hidungku merah karena banyak menangis.

Kenapa aku harus menangisi dia?? Bukan aku atau pacarnya yang salah! Tidak seharusnya dia seperti itu! Tidak seharusnya dia bermanis-manis pada banyak wanita! Tidak tahukah dia kalau hati wanita mudah luluh dan juga mudah hancur! Dia tidak berhak mematahkan hatiku! Dia juga tidak berhak mematahkan hati pacarnya!

Kenapa dia tega mengajakku pergi sedangkan dia sudah punya pacar?? Tidakkah dia memikirkan perasaanku atau perasaan pacarnya?? Pernahkan dia memikirkannya??

Oh, Tuhan! Aku bersyukur dia tidak memilihku karena jika dia memilihku... Maka hatiku akan patah berkali-kali. Biarlah hatiku patah kali ini, tapi aku tahu pasti dia memang bukan untukku dan biar kutunggu seseorang yang akan menjaga hatiku. Menjaga hatiku dari sejak awal, bukan untuk menaklukan hatiku, tapi untuk melindungiku dan mendukungku.

Akan kulepaskan dia, Tuhan. Dia memang bukan untukku.

Aku menjajalkan rangakaian mawar kering itu ke tempat sampah dengan keyakinan. Kusambar Bbku dan kubalas pesan darinya.

“Sorry, Bro gua ga bisa nemenin lo. Lo sudah punya cewe, jangan panggil gua atau cewe lain dengan ‘sayang’. Tolong, jaga hati dia. J GBU.”



***




6 Comments

  1. SUKAAAAA banget dengan cerita ini! Aku share di FB yah~~

    Mbak Lasma bagus banget nuangin perasaan cewek2 *hug*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Anita. Silahkeun dishare. Suatu kehormatan :D

      Delete
  2. ini cowoknya emang minta dilempar sendal. Bersyukur aku udah bisa melalui tahap nangis2 dan sakit hati saat di-PHPin. Preeetttt....
    - Nonik -

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puji Tuhan, Babe jagain dirimu Nik. Jd ga perlu jadian apalagi nikah sama dia. Bisa lebih makan hati x.

      Delete