Pengapit







Hari ini kau bergaun putih dengan rambut tertata indah di bahumu bak seorang dewi. Rangkaian bunga yang ada di tanganmu bahkan tidak dapat menyaingi silaunya pesonamu.

Kau memasukkan lagi satu potong kue kecil ke dalam mulutmu. Pipimu yang kemerahan tampak semakin cerah saat kau menikmati setiap hidangan. Sepertinya kau sangat lapar.

Ya, tentu saja. Kau harus bangun dari jam 4 pagi untuk memoles dirimu agar tidak kalah cantik dengan ratu sehari malam ini. Rasanya aku ingin mengucapkan banyak terima kasih pada penata riasmu karena ia tidak membuat kecantikan alamimu tergantikan oleh tebalnya produk kecantikan yang entah ada berapa macam bentuknya.

" Mau?" Tiba-tiba kau sudah ada di depanku dengan sepiring penuh kue dan buah. Yah, kau sangat tahu porsi makanku dan aku tahu porsi makanmu. Aku seperti kucing dan kau seperti kuli. Wajar saja aku kurus dan tidak gagah, sementara kau... Kau memang tidak kurus atau langsing. Tapi, tetap saja aku terpesona padamu.

" Belum kenyang juga?" Tanyaku sambil mengambil sepotong semangka dari atas piring. Sambil mengunyah dengan lahap, kau menggeleng dengan mantap. Kau tepuk perutmu yang hari ini terlihat rata berkat korset yang kau gunakan.

" Hari ini tenaga terkuras banyak," jelasmu sambil kembali memasukkan sepotong nanas ke mulutmu. Aku hanya bisa tersenyum lebar menikmati dirimu yang apa adanya di hadapanku.

" Ya, pengantinnya mau foto dengan pengapit pria dan wanitanya. Mana ini pengapitnya? Oh, sedang makan rupanya!!" Seruan MC menyentakkan kita berdua. Kita langsung memandang ke panggung dan dua sahabat kita yang sedang berbahagia melambaikan tangannya memanggil kita.

" Diajak foto tuh! Yukk!" Tanpa bertanya lagi, aku langsung mengambil piring dari tanganmu dan meletakkannya di atas meja terdekat. Aku menuntunmu agar berjalan ke atas panggung sementara aku berjalan di sampingmu.

Kau tahu? Aku sudah memikirkannya sejak aku melihatmu di gereja. Aku tidak bisa ingat bagaimana pengantin wanita masuk ke dalam ruang ibadah, tapi aku ingat bagaimana kau yang berjalan di belakangnya dan sibuk merapikan gaun sang pengantin.

Aneh...sejak itu semua tentangmu memberikanku alasan untuk aku mengambil langkah besar dalam hidupku. Aku tidak tahu kau akan mau atau tidak, tapi aku berharap kau memberikan kesempatan.

Aku tidak menyiapkan hal yyang romantis. Tidak ada yang manis di dalam diriku untuk bisa menaklukkan hatimu. Hanya saja aku yakin, kau mengenal siapa aku. Apa yang akan kukatakan ini bukanlah main-main. Kau akan melihatnya di balik mataku.

" Sin, nikah yuk!" Bisikku di antara langkah kita menuju ke atas panggung. Bisikkan yang tidak terlalu pelan. Cukup untuk hanya kau yang mendengarnya.

Kau tidak menghentikan langkahmu, hanya memandangku dengan tatapan tak percaya. Lama kau menatapku dan aku menatapmu. Lalu wajahmu memerah dan tiba-tiba langkahmu tersengkat. Kutangkap tanganmu agar kau tidak terjatuh.

" Ketemu Babe gua dulu," bisikmu dengan wajah kaku dan pipi memerah, semerah wajahku yang tidak dapat menahan kebahagiaanku.

amsaLFoje via Blogaway

0 Comments