Remember You - Prolog



Putih. Putih. Putih..
Hanya ada warna putih di depan matanya. Oh, dengan sedikit bercak-bercak berwarna biru. Apa itu sebenarnya??


Hira menutup matanya kembali dan mengerutkannya lebih dalam. Saat ia membukanya kembali, ia baru melihat dengan jelas warna putih yang lebih menyilaukan diantara putih yang bebercak biru itu.


Warna putih terang itu adalah lampu dan warna putih dengan bercak biru itu adalah langit-langit ruangan. 


Dia ada dimana??

Hira menoleh ke kiri dan di sana ia melihat jendela-jendela besar yang memperlihatkan pemandangan malam kota Jakarta dengan berbagai kelap kelip lampunya. Jutaan bintang imitasi buatan tangan manusia.

Ia menoleh ke kanan dan tertegun melihat Riana, ibunya, tertidur pulas di sofa dengan berselimut kain bermotif panda. Selimut kesayangan Hira.

" Ma...", Hira memanggil dengan suara parau. Ia tertegun dengan suaranya yang sangat serak dan hampir tidak terdengar sama sekali.

Ia meraba tenggorokannya yang terasa kering. Beberapa saat ia menyadari ada yang aneh dengan tubuhnya. Ada sesuatu di hidungnya. Seperti sebuah selang yang dimasukan dari hidung dan melewati kerongkongannya. Ujung selangnya direkatkan di pipi kirinya. Apa ini? 

Hira semakin terkejut saat melihat tangan kirinya yang dibalut perban dan diantara perban keluar selang kecil yang mengalirkan cairan bening yang terdapat di kantung bening berlabel merah, tergantung di sebuah tiang.


Eh, ini bukannya diinfus? Pikir Hira tersadar. Ia membelalakkan matanya dan baru ingat kalau ia sangat takut dengan jarum suntik. Apalagi kalau diinfus.


" Ma...!" Hira berseru dengan suara seraknya dan berusaha duduk di tempat tidurnya, tapi tepat saat itu tiba-tiba kepalanya terasa seperti dipukul dengan keras. Ia pusing sekali. Ruangan itu seperti bergoyang dan ia menjadi mual.


" Ma...!" panggil Hira, semakin panik. Ia memegangi kepalanya sambil tetap berusaha bangkit dari tempat tidur. Ia berusaha menapak di atas kakinya tapi, ia merasa seperti kehilangan semua tenaganya. Seketika ia kehilangan keseimbangan dan berlutut di lantai. 

Kepalanya yang sakit dan pusing masih terus berdentam-dentam seolah ada sesuatu yang memaksa ingin keluar dari kepalanya. Rasa pusing itu perlahan-lahan menjalar ke perutnya dan membuat perutnya bergejolak. Tanpa bisa menahannya, Hira memuntahkan isi perutnya yang hanya berwarna kekuningan.

" Hira!! Ya, Tuhan!!" Riana yang sudah terbangun langsung menggapai Hira dan membantu putri bungsunya agar duduk di sofa. Ditariknya tiang tempat menggantungkan infus agar pipa infus tidak tertarik hingga melukai tangan Hira. 

Dengan tubuh yang gemetar karena rasa pusing di kepala dan mual di perutnya, Hira menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa. Ia menutup matanya beberapa saat berusaha meredam rasa sakit di belakang kepalanya. Ia menarik napas pelan dan membuangnya sedikit-sedikit. Cara yang cukup berhasil untuk menahan pusing di kepalanya.

Ia membuka matanya dan menoleh pada ibunya yang sudah tersenyum lebar bercampur cemas. Sepertinya Hira sudah banyak membuat ibunya khawatir. Buktinya mata ibunya sampai berkaca-kaca melihatnya terbangun.

" Hira, akhirnya kamu bangun, Nak," bisik Riana sambil mengusap rambut Hira dengan sayang. Seperti tidak tahan dengan rasa senangnya, Riana memeluk Hira erat-erat hingga gadis itu megap-megap.

" Memangnya Hira tidur berapa lama, Ma?" tanya Hira, setelah Riana melepaskan pelukannya.

" Kamu sudah ga sadarkan diri sebulan ini. Mama Papa kira kamu koma tapi dokter bilang kamu cuma tertidur. Tidur yang panjang," jelas Riana, dengan suara berbisik dan mata yang tidak lepas memandang putrinya, meyakinkan dirinya tidak sedang bermimpi. Ia hampir saja kehilangan harapan kalau Hira akan bangun, tapi ternyata Tuhan menjawab doa-doanya.

Ia menatap Hira yang ternganga, tidak percaya kalau dia bisa tertidur selama satu bulan. Riana memeluknya lagi dengan lembut dan mengusap rambut Hira dengan sayang. Hatinya begitu lega.

" Memangnya Hira kenapa, Ma?" tanya Hira membuat Raina melepaskan pelukannya. 

Hira menatap mata ibunya, menunggu penjelasan. Ia tidak bisa mengingat bagaimana ia bisa berada di rumah sakit, bahkan pingsan sampai sebulan.

Riana tidak menjelaskan dan malah tampak sangat terkejut.

" Kamu tidak ingat apa-apa?" tanya Riana, bingung.

Hira berusaha mengingat-ingat, tapi seiring ia semakin berusaha mengingat, kepalanysa semakin terasa nyeri seperti ditusuk-tusuk paku.Ia menutup matanya rapat-rapat dan memegang kepalanya dengan kuat karena rasa sakit yang tak tertahankan.


" Hiraa..?!"


" Hira.. Ga bisa ingat.." bisiknya, sambil menahan sakit.


" Ya, udah. Ga usah diingat. Mama panggil dokter dulu ya."


Hira mengganguk pelan dan membiarkan ibunya meninggalkannya sementara ia terus memegangi kepalanya yang nyeri. Saat Riana menghilang dibalik pintu, Hira kembali menenangkan diri, menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Ia melakukannya berkali-kali hingga rasa sakit di kepalanya reda.


Ia menutup matanya perlahan dan kembali mencoba mengingat apa yang terjadi. Mengapa ia bisa ada di rumah sakit ini dan tidak sadarkan diri hingga sebulan lamanya. Ia mencari diantara memori di kepalanya dan perlahan bayangan putih, merah, biru, jingga terbersit di kepalanya. Hira berusaha semakin keras untuk mengingat, tapi yang muncul wajah orang tuanya, wajah sahabat-sahabatnya. Kejadian yang terakhir ia ingat hanya ia tidur di kamarnya setelah menulis beberapa laporan untuk tugas kuliahnya. Hanya itu.


Lalu warna biru, putih, jingga dan biru itu apa ya? Hira mengira-ngira, tetapi tidak dapat menemukan jawabannya. Yang ia yakini hanya warna itu yang bisa menjawab pertanyaanya mengapa ia bisa pingsan sampai 1 bulan dan tinggal di rumah sakit dengan berbagai selang menempel di badannya.


Mungkin nanti orang-orang terdekatnya bisa menjawabnya.... 

***
    TOKOH | SELANJUTNYA

0 Comments