Remember You: Joshep





Ia memarkirkan Mazda RX7 hitamnya di samping Rolls-Royce Phantom VIII dan di depannya Porsche 911 merah . Bangunan dengan model arsitektur romawi. Temboknya dilapisi batuan marmer dingin dan sebagian sudutnya dihiasi patung marmer berbentuk dewa dewi mitologi Roma. Di tengah halaman depan kolam ikan dengan pancuran air berbentuk wanita membawa kendi menjadi pusat taman dan mobil-mobil memutarinya saat harus keluar masuk halaman depan.

Ia keluar dari mobilnya dengan cepat. Langkah kakinya tergopoh-gopoh memasuki rumah besar bak istana. Tak dipedulikannya beberapa pelayan yang membungkuk memberi hormat. Keterlambatannya tidak membuatnya sempat berbasa basi pada siapa pun.

" Kak Gaby..." Ben menghentikan langkahnya dengan cepat hingga hampir terjatuh. Perempuan yang baru keluar dari kamar yang ditujunya pun tak kalah terkejut.

" Ben..." bisiknya pelan, mata sipitnya yang unik membelalak. Ia tampak kikuk dan cepat-cepat tertunduk.

Ben tak berani memandangnya lebih lama. Mata Gaby yang memerah seperti biasanya membuat Ben gugup, tak bergeming. Ben tak mau bertanya lebih lanjut karena tahu apa yang akan jadi jawabannya.

" Aku pulang dulu." bisik Gaby, lirih. Ben mengangguk pelan dan membiarkan Gaby berjalan terburu-buru meninggalkan kamar yang sudah setahun ini ia kunjungi.

Tanpa menoleh lagi, Ben masuk ke dalam kamar di mana tadi Gaby baru keluar. Aroma obat dan alkohol langsung menyeruak saat Ben membuka pintu. Di tengah ruangan, di atas ranjang besar, Ben memperhatikan dengan seksama gerakan halus dada pria muda yang usianya tidak jauh berbeda darinya.

" Mba Asih, ini obat yang tadi Mba minta. Maaf telat. Macet banget soalnya." jelas Ben sambil meletakkan bungkusan berisi obat yang ia beli di seperjalanan pulang tadi di atas meja yang penuh perlengkapan medis.

" Oh iya Ben. Makasih ya. Gaby baru saja tadi pulang. Kamu ketemu di depan?" tanya Mba Asih sambil membereskan obat yang tadi Ben bawa.

" Iya, mba. Dia... Nangis lagi ya?"
Mba Asih tersenyum sekilas membenarkan pertanyaan Ben. Ia mengangkat bahunya dan menghembuskan napas.

" Masih ga nyerah saja dia Ben. Padahal Papi Mami kamu sudah bilang buat dia cari cowo lain saja. Mau nunggu sampai kapan?"
Ben menundukkan kepalanya dalam-dalam mendengar kata-kata Mba Asih. Perlahan ia menghampiri ranjang di mana orang yang Gabby tunggu sejak dulu untuk bangun sedang tertidur.

Jos.. Joshep. Sudah satu tahun ia tertidur pulas tanpa ada tanda-tanda akan terbangun.

Ben duduk di kursi yang ada di samping ranjang dan memandangi Joshep yang tinggal tulang berbalut kulit. Jauh berbeda dari sebelum kecelakaan itu terjadi. Jos adalah pria yang gagah dan tegap. Senyumnya selalu lembut dan ramah. Pria idaman para wanita.

Jos selalu berhasil membuat Ben merasa iri. Hampir semua yang Ben inginkan ada pada Jos. Fisik yang tampan, otak yang cerdas, sikap yang dewasa, kebanggaan hati kedua orang tua mereka.

Tapi sampai hari ini, Ben tak pernah bisa menyamai level Jos. Selalu saja gagal. Bahkan dengan membuat Jos berada di atas ranjang itu. Tak berdaya.. Ben tetap tak bisa menyamai levelnya..




" Dia datang lagi, Jos. Kamu ngerasa ga? Dia nungguin kamu terus loohh...Mau sampai kapan bikin dia nunggu?" bisik Ben berharap Jos memberi reaksi atas kata-katanya.

Jika Ben mau, ia tidak mau berada di kamar itu. Duduk dan memandang kakaknya tak berdaya. Rasa bersalah masih menguasai hidupnya. Masih mencekam punggung dan ulu hatinya. Ia tidak bisa kemana-mana. Ia merasa harus melakukan sesuatu. Walau hanya sedikit...

" Jos, sebentar lagi aku sidang tugas akhir. Berarti sudah mau lulus dan wisuda. Kamu ga mau liat aku diwisuda?" Ben mendekatkan tangannya ke telapak tangan Jos yang seperti ranting disusun membentuk tangan. Ia ingin menggenggamnya tapi merasa tak pantas.

" Ben, sebenarnya.. Tadi saat ada Gabby, dia menunjukkan gerakan pada otot matanya."
Ben membelalakkan matanya mendengar penjelasan Mba Asih. Setelah setahun, akhirya Jos menunjukkan respon. Ben menoleh pada Mba Asih ingin memprotes karena tidak segera memberi tahunya.

" Iya, aku mau cerita tapi terlalu sibuk mengurus perlengkapan Jos yang sudah mulai habis." Jelas Mba Asih sebelum Ben sempat memprotes.

" Berarti, sebentar lagi Jos sembuh ya Mba?" tanya Ben, penuh harap.

" Semoga begitu ya. Karena saya tidak bisa memastikan. Ini saya mau buat laporan, biar besok kalau dokter Budianto datang, dia bisa periksa lagi perkembangannya."
Ben mengangguk penuh semangat mendengar penjelasan Mba Asih. Tak apa walau hanya sedikit perkembangan yang bisa ia lihat. Yang penting ada kemajuan. Papi Maminya pasti akan sangat senang mendengarnya.

Mba Asih berpamitan sebentar keluar untuk makan siang. Karena menunggu obat yang Ben beli, ia menunda makan siangnya. Ben langsung memberikan ijin.

Wanita itu sudah membantu banyak lebih dari yang seharusnya. Ia perawat yang Papinya pekerjakan untuk khusus merawat Jos. Sebelum-sebelumnya ada beberapa perawat, tapi tidak bertahan karena Papinya tidak puas dengan pekerjaannya. Mba Asih yang paling Papinya percaya karena sudah 10 bulan lebih merawat Jos.
Ia mengerjakan semua yang diperlukan Jos sebelum Papinya meminta. Bahkan, tidak jarang Mba Asih akan mengomel pada pemilik beberapa perusahaan multi nasional itu tanpa segan. Selama hal itu diperlukan untuk menjaga kesehatan Jos dan orang sekelilingnya, ia akan mengomel tanpa basa basi.

Ben kembali menatap wajah Jos yang tirus saat Mba Asih menghilang di balik pintu. Wajahnya yang pucat dan kurus membuat Ben tak tahan untuk membuang pandangannya. Terlebih lagi guratan-guratan bekas luka bakar di wajah bagian kanannya. Bekas luka itu seperti penanda dosa-dosa Ben di masa lalu.

Setiap dosa yang ia buat pada Ben dan Hira...

Hira..

Ben ingin menceritakan tentang cewe itu pada Jos, tapi apa Jos akan peduli? Ya, kalau Jos pasti peduli. Jos orang yang selalu peduli pada orang lain. Bahkan ia mengalami ini semua karena kepeduliannya. Kepeduliannya yang membawa pada petaka.

" Jos, cepat sembuh..." bisik Ben lembut.

***

Pukul 18.35, di atas meja makan yang cukup untuk 12 orang makan bersama, disajikan makanan lezat. Ayam bakar, spageti, salad, kentang keju panggang, dan sup asparagus. Menu makanan lengkap, tapi hanya Ben yang ada di sana. Tiga set alat makan sudah disiapkan, ia bertanya-tanya siapa lagi yang akan makan bersamanya. Biasanya ia makan sendirian saat makan di rumah.

Aroma harum melati yang mewah tiba-tiba menyeruak memenuhi ruang makan bertepatan dengan pintu dibuka. Dengan langkah yang cepat tapi tetap anggun, wanita 50 tahunan yang cantiknya melebihi gadis-gadis remaja, duduk di sebelah Ben.

" Hi, Ben." sapanya sambil menyiapkan serbet makan di atas pangkuannya.

" Hi, Mam." balas Ben dengan terheran. Tidak biasanya Maminya makan di rumah. Biasanya ia makan dengan teman bisnisnya, arisannya, atau teman lainnya yang Ben tidak tahu ada berapa kelompok teman bergaul ibunya.

" Tumben Mami makan di rumah." tanya Ben sambil terus mengamati gerak-geriknya yang feminim. Ia tidak langsung mengambil hidangan yang ada. Seperti biasa, jika ada set perlengkapan makan disiapkan lebih dari satu, mereka harus menunggu semua orang datang.

" Hi, Ben." Papi Ben datang bertepatan saat Maminya akan menjawab pertanyaan Ben. Maminya segera membungkam mulutnya dan terus mengamati Papinya datang dan duduk di sebrang Ben.

" Hi, Laurent.." Papi Ben menyapa Maminya dengan pelan dan anggukan kecil, Laurent membalas dengan senyuman kecut di bibir merah menyalanya.

" Kupikir kau tidak akan datang, Tuan Boas." gumam Laurent tapi cukup keras untuk didengar Boas, suaminya.

Boas menatapnya lurus dan masih mengagumi kecantikan wanita itu. Kecantikan yang sama sejak pertama kali mereka bertemu 30 tahun yang lalu.

" Jangan meledekku." Boas menundukkan pandangannya dan mulai menyendokkan makanan ke atas piringnya.

" Kita, ga berdoa dulu?" tanya Ben, ragu. Aura dingin antara Mami dan Papinya benar-benar mengganggu. Jika boleh, ia memilih untuk makan sendirian.

" Tidak perlu." jawab Boas dan Laurent bersamaan. Mereka saling melirik tajam dan kembali sibuk mengisi piring mereka.

" Bagaimana kuliahmu?" tanya Boas tanpa menoleh pada Ben. Tatapannya lurus pada makanan yang ada di piringnya.

" Bulan depan aku sidang Tugas Akhir, Pi." jelas Ben. Setelah hampir 7 tahun, akhirnya Ben bisa menghadapi sidang Tugas Akhir. Setelah selama 5 tahun kuliah dengan asal-asalan. Ia mengejar semua ketinggalan.

Demi... Demi Jos..

" Oh, baguslah. Setelah lulus kamu mau kerja di mana?" tanya Boas lagi. Kali ini menatap Ben dengan penuh selidik.

Ben tidak membalas tatapan mata Boas. Ia sendiri bingung mau menjawab apa. Ia belum benar-benar punya rencana bekerja ke mana dan serius menekuni bidang apa yang sesuai dengan jurusan yang ia ambil.

" Kamu boleh bekerja di mana saja yang kamu mau, Ben. Kalau mau membuka bisnis sendiri Mami pun setuju. Mami akan bantu apa pun yang kamu perlukan."
Laurent menggenggam tangan Ben erat dengan senyum merekah. Lalu tatapannya yang lembut beralih pada Boas dan berubah menjadi begitu tajam.

" Sudah seharusnya kamu membiayai semua keperluannya. Lagipula dia tidak akan mendapatkan warisan apa pun dariku." jelas Boas sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi dan tersenyum puas, mengejek Laurent.

" Dia tidak membutuhkan warisanmu. Aku akan membiayai keperluannya. Aku pun masih mampu membiayai pengobatan Joseph."

Boas mendengus kencang lalu tertawa pelan, mengejek lagi. Ia menggaruk hidungnya dan mencondongkan tubuhnya. Dasi biru tuanya yang terbuat dari sutra, hampir saja tercelup ke dalam sup asparagusnya.

" Lakukan saja yang kamu mau. Kamu pun tidak akan mendapat apa-apa dariku. Bahkan bisnis-bisnismu itu pun bermodal dari uangku. Tapi.. anggap saja aku sedang beramal. Aku tidak akan menagihnya..."

" Haaahhh.... Pembicaraan ini membuatku mual dan muak. Ben.."

Boas memperbaiki duduknya menghadap Ben. Ia memandang Ben dengan tajam dan tak mempedulikan bibir Laurent yang bergetar pelan.

" Dengar baik-baik. Aku dan ibumu sedang dalam proses perceraian. Kamu dan ibumu sudah harus bersiap pindah dari rumah ini dalam seminggu ini. Bantu ibumu mencari tempat tinggal."

Sudah sejak Ben kecil, Papi Maminya tidak memiliki hubungan yang harmonis, tapi ia tidak pernah membayangkan kalau mereka akan berpisah. Walaupun sekarang Ben sudah berusia 25 tahun, tetap saja kabar perceraian ini membuatnya tercekat dan sulit bernapas. Ia tidak siap.

" Bagaimana dengan Jos...?" tanya Ben, serak.

" Jos, tinggal di sini saja sampai sembuh. Papi ingin Jos tinggal dengan Papi. Papi sudah sepakat dengan Mami soal ini."

" Oh, iya. Satu lagi, saat kalian pindah, jangan bawa mobil itu. Aku tidak ingin kalian menikmati kemewahan yang kumiliki."

Boas bangkit berdiri dari kursinya dan melemparkan serbetnya ke atas piring dengan angkuh. Di tatapnya Laurent sebentar. Ia melihat bibir wanita itu bergetar dan matanya tampak berkaca tapi ia menyembunyikannya. Sekilas Boas merasa luluh, tapi ia menahan perasaan itu. Ia tidak membutuhkan wanita angkuh macam dia.

Bunga, wanita itulah yang ia butuhkan.
Ruangan itu menjadi sangat hening saat Boas meninggalkan ruangan. Tidak ada lagi selera makan di antara ibu dan anak itu. Makanan semakin dingin dan tidak ada makanan yang masuk ke dalam mulut mereka.

Dengan tangan yang dingin berkeringat Laurent menggenggam tangan Ben.

" Maafkan Mami..." bisiknya pelan dan bergetar.

Ben bisa merasakan tangis dalam suara Laurent, tapi ibunya itu sanggup menahannya dengan kuat. Ini bukan pertama kalinya.

Berkali-kali, setiap kali Boas memarahinya dan melabelinya sebagai anak tidak berguna, setiap kali itu pula Laurent meminta maaf pada Ben. Meminta maaf atas nama Papinya. Sayangnya, hal itu membuat Ben semakin muak pada Boas. Ia semakin memberontak dan membuat banyak masalah.

Hanya karena kejadian 1 tahun lalu...akhirnya Ben berubah...

Perubahan yang harus dibayar dengan cara yang mahal...

" It's Ok, Mam..." bisik Ben pelan. Membalas genggaman tangan Laurent.

Kali ini ia ingin melakukan semuanya dengan cara yang benar.

***



Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.




2 Comments