Tuesday, January 7, 2020

REMEMBER YOU: Mengingatmu




"Aku ga mau bikin kamu nunggu. Kita nikah tahun ini yaa.." Ia memohon dengan sangat. Hira mengangguk pelan, hatinya meluap dengan kehangatan tapi juga kekuatiran. Sanggupkah dia menjadi istri yang baik di usia muda?


"Terima kasih!!" senyum lebarnya menunjukkan giginya yang somplak lagi. Ia mendekatkan wajahnya dan memeluk Hira hangat.





Tanpa rasa takut Hira membalas pelukannya. Rasa hangat, nyaman, aman dan lembut menjalari tubuhnya. Perasaan yang sudah lama ia tidak rasakan.

Tiba-tiba saja ia merasa rindu. Hira menguatkan pelukannya, ia tidak mau kehilangan lagi. Tapi tepat saat Hira menguatkan lengannya, ia menghilang.

Hira melihat sekelilingnya...
Hanya ada kabut tebal.
Hira ingin memanggil, tapi ia tidak tahu harus menyebut nama siapa.

"Hira..." nama Hira dipanggil
Hira menoleh ke arah suara dan warna terang jingga....
Menyeruak menyilaukan matanya. Bersamaan itu jeritan tangisan terdengar di telinganya menusuk ulu hati Hira hingga sulit bernapas..

"Hira.."


***

Hira membuka matanya perlahan. Gelap. Hari masih malam?

Ia bangun dan duduk bersandar di ranjangnya. Ia merasa lelah. Dadanya sesak, tenaganya seperti habis.

"Ada apa?" bisiknya pada diri sendiri. Ia seperti baru bertarung dengan lawan yang kuat dan ia kalah..

Hira menutup matanya dan bayangan orang itu muncul lagi. Si gigi somplak...
Kenapa Hira merasa sangat rindu??
Kenapa Hira merasa sangat nyaman ada di dekatnya?? Keberadaannya seperti selimut halus di musim dingin. Begitu lembut dan nyaman...

Hira belum pernah merasa seperti ini.
Apakah dia pria masa depannya? Tapi kenapa terasa begitu dekat tapi juga menyakitkan??






Hira menekan dadanya pelan berusaha manahan sesak di dadanya yang seperti akan tumpah.

Ini menyiksa.

***

Hira menyuapkan roti isi coklat ke mulutnya dengan malas. Ia tidak nafsu makan tapi ia harus makan supaya tidak lemas. Paling penting, supaya ibunya tidak mengomel panjang kali lebar.

"Mahesa, tolong ambilin palu di gudang! Ini foto Eyang hampir jatoh, pakunya udah kendor." seru Riana dari ruang tamu.

Hira menoleh pada Mahesa yang sedang sibuk dengan komputernya dan earphone yang menutup kedua telinganya. Hira bisa mendengar sayup-sayup lagu Jatuh Hatinya Raissa, salah satu artis pujaan abangnya itu. Mahesa pasti tidak mendengar panggilan ibunya.

Hira terlalu malas memanggil Mahesa supaya ia menurunkan volume musiknya yang keras. Apa susahnya berinisiatif membantu mengambilkan palu.

"Hira aja yang ambil, Ma!" seru Hira sambil meletakkan rotinya ke atas piring.

Braakk!!

Hira menoleh ke ruang tamu dan melihat Riana tergopoh-gopoh mendekati Hira. Di belakangnya tumpukan majalah jatuh ke lantai tak ia pedulikan.

"Ga usah Hira. Biar Mama saja yang ambil. Udah kamu habisin sarapan kamu saja."
Jelas Riana dengan wajah panik. Ia menoleh pada Mahesa, mendekatinya dan menarik jambang putranya itu dengan keras.

"Kebiasaan dengerin musik keras-keras. Mama manggil kamu ga dengar kann.." omel Riana, kesal.

"Aduh, Mama. Ya ga usah narik jambang Mahesa. Sakitt." omel Mahesa sambil mengusap jambangnya. Kupingnya memerah merasakan nyeri di dekat telinganya.

"Padahal Hira juga bisa ambil, Ma." gerutu Hira sambil mengunyah rotinya lagi. Melihat reaksi Riana tadi, membuatnya agak kesal. Ibunya terlalu bereaksi berlebihan.

" Ha.. Ga usah Hira. Mahesa aja ma!"

Hira menoleh pada abangnya penuh selidik. Abangnya seperti menyetujui tindakan Riana melarang Hira mengambil palu di gudang. Mencurigakan.

"Ga usah!! Mama udah ambil sendiri." omeal Riana. Sambil keluar dari gudang membawa palu.

Sekilas Hira melirik ke pintu gudang yang sempat agak terbuka. Dari celah pintu Hira melihat sedikit bagian bingkai foto yang cukup besar. Entah foto siapa. Hira mencoba melihat lebih jelas tapi Riana keburu menutup pintu gudang dan menguncinya.

Hira merasa janggal, tapi terlalu malas untuk berpikir dan menebak-nebak apa yang ibunya sembunyikan.

Mungkinkah berkaitan dengan ingatannya yang hilang??

"Hira, ga keluar? Liburan gini di rumah aja." tanya Mahesa, kepo. Ia sudah melepaskan kedua earphone dari telinganya.

"Abang sendiri, ga kemana-mana. Kelamaan jomblo, Bang. Ga ada pacar?"

"Ish... Malah kurang ajar."

"Ih, nanya doang. Malah dibilang kurang ajar." omel Hira sambil menjulurkan lidah.

"Ra, lemes amat. Kenapa?" Mahesa duduk di samping Hira dan mengambil 1 jelai roti yang sudah dioles selai coklat.

Hira tidak menjawab pertanyaan Mahesa. Pikirannya kembali melayang mengingat mimpinya, cowo itu.

"Aku ga mau bikin kamu nunggu. Kita nikah tahun ini yaa.."

Kenapa ia seperti melihat adegan drama tapi terasa nyata. Yang membuat Hira bertanya-tanya, kenapa hatinya merasakan hal yang campur aduk. Menyiksa...

" Hira?" Mahesa melambaikan tangannya di depan wajah Hira. Adiknya itu menatap televisi tapi tatapannya tampak kosong. Seperti waktu itu..
Ia agak kuatir..

"Bang, mimpi tuh beneran bisa meramalkan masa depan ga sih? Kalau memang iya, Hira ga mau ngalamin yang ada di mimpi... Rasanya nyiksa."

Mahesa terpaku mendengar pertanyaan Hira. Lidahnya kelu. Ia pikir ia tahu apa yang Hira maksud tapi ia tidak bisa memastikan. Terlalu beresiko.

" Memang kamu mimpi apaan?" tanya Mahesa setelah beberapa saat terdiam. Memandang Hira yang menatap kosong ke depan. Roti di tangannya belum juga habis ia makan.

" Mimpi soal cowo itu lagi, tapi kali ini beda..."

🎢🎢🎢

Hira tidak melanjutkan ceritanya. Ia mengambil ponselnya dan melihat nama orang yang menghubunginya.

"Ben!" Hira membelalak terkejut. Wajahnya yang semula tak bersemangat langsung tampak cerah.

Mahesa yang mendengar nama Ben memasang telinganya dengan seksama. Ben sudah dipastikan cowo yang diceritakan Jenny sedang mendekati Hira.

"Halo, Ben?"

Senyum merekah menghiasi wajah Hira membuat Mahesa cemas. Ia bingung harus melakukan apa.

"Nemenin ngepak barang? Di rumah Pamela? Boleh. Jemput jam 9? OK!"

Begitu menyelesaikan pembicaraan di telepon, Hira bergegas pergi ke kamarnya di lantai 2. Baterai energinya seperti tiba-tiba terisi penuh. Wajah muramnya tadi tiba-tiba lenyap.

" Hira mau kemana?" tanya Riana mendekati Mahesa sambil menyerahkan palu yang tadi ia gunakan.

" Kayaknya janjian sama temannya." jelas Mahesa, enggan menjelaskan lebih lanjut.

" Cowo atau cewe?" selidik Riana tanpa melepaskan pandangan dari anak tangga ke lantai atas, memastikan Hira tidak akan tiba-tiba muncul.

" Ga tahu. Ma, kunci gudangnya sini."

Riana tidak melanjutkan pertanyaannya walau sedikit agak was-was. Akhir-akhir ini dia agak kuatir melihat gelagat Hira. Seperti sedang.. Kasmaran...

"Mahesa.." Riana mendekati Mahesa yang baru akan membuka pintu gudang. Putra keduanya itu menoleh dengan tidak bersemangat. Perkara Hira ini membuatnya cepat merasa lelah.

" Kamu sama Andra sudah mastiin kan Hira ga boleh deket sama cowo manapun?" tanya Riana dengan suara berbisik tapi menekan.

"Udah, Ma. Mama tenang aja."

"Kamu jangan sampai lepas pengawasan yaa. Mama lihat Hira agak beda beberapa hari ini. Kalau sampai dia berhubungan dengan cowo lain dengan kondisi kayak sekarang, Mama takut keadaan makin kacau." jelas Riana dengan wajah sangat cemas membayangkan yang ia takutkan.

Mahesa merangkul bahu Riana lembut. Ia tahu kekuatiran ibunya. Setahun ini ia berjuang menjaga Hira.

"Iya, Ma. Tenang aja ya."

Ia dan Andra akan memastikan badai itu tidak akan datang lagi ke tengah-tengah keluarganya.

***

"Mi, udah minum obat?" Ben merapihkan piring di atas meja makan. Lagi-lagi Laurent tidak menyentuh makanannya.

"Sudah tadi." Laurent menjawab pelan sambil memandang keluar jendela. Cahaya matahari yang masuk lewat jendela menyinari wajahnya, menunjukkan air mukanya yang tanpa sinar. Buku di pangkuannya terbuka tapi tak juga ia baca.

"Mi.. Mami mau Ben temanin hari ini?" Ben berlutut di dekat kaki Laurent dan memegang lembut tangan ibunya. Laurent menoleh dan ada sedikit binar di matanya saat menatap Ben.

Dengan lembut Laurent membelai kepala Ben. Senyum penuh kasih sayang yang selalu Ben lihat. Penuh kasih sayang tapi juga penyesalan.

"Ga usah Ben. Nanti siang Ci Yuli dateng nemenin Mami. Dia juga mau bawa makanan. Kamu pergi aja. Jangan gara-gara Mami malah ngerem di rumah terus."

Ben mengangguk pelan dan meninggalkan kecupan lembut di pipi dan kening Laurent.

"Nanti Ben telepon Ci Yuli ya Mi buat mastiin Mami makan."

Laurent mengangguk, pelan. Ia mengikuti sosok Ben yang berjalan keluar dan menghilang di balik pintu.

Tanda tanya besar kembali berkelebat di kepalanya..
Kenapa Boas tidak bisa melihat dirinya sendiri di dalam Ben?
Wajahnya, postur tubuhnya, bahkan sikap lembutnya sama persis seperti Boas di saat-saat mudanya. Di saat ia masih begitu banyak mencurahkan kasih sayang pada Laurent..

"Dia bukan anakku. Jangan kamu bela dia di depanku. Anak terkutuk itu...!! Perlakuanku padanya adalah hukumanku untuk pengkhianatanmu."

Bertahun-tahun, berulang-ulang Boas mengatakannya pada Laurent setiap kali ia memukul Ben dengan keras. Tidak ada celah bagi Ben untuk Boas memberi sedikit kasih sayangnya. Bagi Boas Ben hanyalah buah pengkhianatan istri dan sahabatnya. Menjaga mereka tetap ada di dekatnya adalah caranya menyiksa Ben dan Laurent..

Hingga hari ini Laurent percaya, dia pantas dihukum atas apa yang ia lakukan. Pengkhianatannya. Cinta sesaatnya hanya karna rasa kesepian.

Tapi Ben..

Ben tidak bersalah. Ben adalah anaknya. Darah dan dagingnya. Mengapa dia tidak bisa melihatnya?

🎡🎡

Laurent mengambil ponselnya tanpa semangat. Bunyi notifikasi instagramnya satu-satunya cara ia mengetahui kabar Boas.

Di layar ponselnya terpampang wajah Boas dengan senyum lebar. Di sampingnya berdiri wajah cantik yang tidak asing baginya. Ia tidak terkejut..

Sudah sejak 2 tahun lalu...

Bunga, sekretaris mudanya. Polos, sederhana, tapi mencintai Boas. Laurent tidak berniat memisahkan mereka.. Di mata Boas, ia hanya masa lalu.

Laurent meletakkan ponselnya dan membuka bukunya, membaca setiap baris puisi, gambaran jeritan hatinya..


Mengingatmu


Awalnya begitu indah
Begitu manis dan lembut
Aku berharap ini selamanya

Tapi..
Jalan cerita tidak pernah semudah itu
Selalu ada kerikil
Selalu ada duri
Selalu ada jurang

Kupikir kita bisa melewatinya
Kukira kita akan memenangkannya

Tapi...
Jalan hidup tidak selalu semudah itu
Kenyataan tetaplah pahit
Rintangan tetaplah menusuk
Beban ini masihlah berat

Hari ini aku mengingatmu lagi
Masih perih
Masih sesak

Tapi..
Rasa manis itu masih ada
Kelembutanmu masih bisa kuraba
Aku tak menyesalinya

Setiap kali mengingatmu
Aku tak menyesal

Pernah menjadi milikmu

***



Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.