Tuesday, January 7, 2020

REMEMBER YOU: Terbuang



Ben mematikan teleponnya dengan cepat dan menghampiri Laurent yang terbaring lemah di sofa. Ia melangkahi kardus-kardus yang belum dibongkar. Akan memakan waktu lama membereskan semua barang. Yang terpenting kamar tidur sudah bisa dipakai.

" Ben...Papimu...Papimu...." Laurent bergumam dalam mabuknya. Ia terus menenggak anggur merah selama Ben membereskan kamar tidur tadi. Ia menenggaknya seolah anggur itu air mineral biasa.

Ben sudah berkali-kali melarangnya, tapi Laurent tidak pernah peduli. Ia selalu mengatakan bahwa ia membutuhkan anggur itu. Agar ia bisa tidur nyenyak di malam hari walau keesokan harinya ia akan merasa seperti ditabrak truk dengan keras,

" Mami, ayoo ke kamar. Jangan tidur di sini.."

Ben melingkarkan lengan ibunyanya di bahunya dan mengangkatnya tanpa kesulitan. Laurent semakin kurus.

" Ben...Papimu...Papimu benci Mami..." bisik Laurent pelan. Ia menatap Ben dengan tatapan terluka. Ditepuknya pipi Ben pelan lalu membelainya dengan sayang.

" Masa dia bilang kau bukan anaknya... Masa dia bilang wajahmu ini mirip orang lain....Benku yang malang....Papimu...Papimu itu GILA!!"

Laurent berteriak keras sambil menghempaskan badannya ke atas ranjang. Ia membenamkan wajahnya ke selimut dan menahan tangisnya. Bahkan mabuknya tidak mampu menghilangkan rasa sakit di dadanya. Ia tidak mampu menatap wajah anak bungsunya... Ternyata berpisah dari suaminya tetap membuatnya merasa sesak. Bagaimana dia bisa menyingkirkan sesak ini? Puluhan tahun ia mencobanya, tapi makin hari semakin terasa sakit.

" Mami, istirahat yaa..." bisik Ben pelan sambil membantu Laurent membetulkan posisi tidurnya.

" Iya, sayang..Mami tidur... hahaha... Besok kita beres-beres lagi yaaa..." janji Laurent walau ia lebih berencana untuk tidur seharian. Ia tidak ingin pergi ke butik atau bertemu siapa pun. Ia hanya ingin tidur. Kalau perlu, tidak bangun-bangun lagi.

"I love you, Ben..." bisik Laurent pelan saat Ben menyelimutinya. Ben membalasnya dengan senyuman simpul dan kecupan lembut di kening Laurent.

Ben duduk di sisi ranjang sambil terus memandang wajah Laurent yang semakin hari semakin tampak lelah. Ben sudah tidak tahu lagi cara menghiburnya. Sejak 2 tahun lalu Laurent rutin menemui psikiater, ia sempat stabil tapi 2 bulan ini, saat Boas menggugat cerai, mental Laurent semakin jatuh. Apalagi saat tahu Boas punya hubungan dengan skretarisnya sejak 2 tahun lalu.

Perlahan Ben merosot, terduduk di lantai. Ia menggenggam tangan Laurent dan membenamkan wajahnya di sana. Ibunya yang cantik. Ibunya yang ceria. Ia ingin Laurent kembali seperti dulu. Dulu dia pun menderita, tapi masih ada kebahagiaan tersirat di matanya. Tapi hari ini...hanya kegelapan yang Ben lihat.

" Mami..." bisik Ben pelan tanpa mampu meneruskan kalimat pengharapannya.

***

Tante sudah tidur?

Udah..

Lo gimana?

Gw baik-baik aja..

Jangan ngilang yaa. Kasih tahu gw kalau butuh sesuatu.

Iya, tenang aja. Siapa lagi yang biasa gw repotin 😁

Iya, mumpung gw masih mau jadi tong sampah lo.

Tong sampah terbaik ❤️

Ciiiihhhh... 
Btw, tadi dicaei Hira. Kamu udah hubungin dia?

Udah tadi

Terus?

Ga ada terusan. B aja...

Dia kuatir banget Ben. Gw liat mukanya tadi siang. Padahal kalian baru kenal kan?

Ben menarik napasnya dalam membaca pertanyaan Pamela. Belum beberapa hari ia dekat dengan Hira dan gadis itu sudah sangat mengkhawatirkannya. Ada sedikit rasa tersayat di dada Ben.

Iya. Baru 2 hari.

Jangan main2 ya Ben. Lo kan bilang udah mau berubah.

Ga kok..
Yang ini gua serius



Ben berharap Pamela membalas chat terakhirnya, tapi sepertinya Pamela sudah tidur. Ia tidak membacanya sama sekali. Garis centang chatnya masih berwarna abu-abu.

Ben mengusap wajahnya berusaha membangunkan dirinya sendiri dari rasa lelah. Rasa lelah yang ia tahu bukan karena tenaganya yang habis untuk membereskan tempat tinggal barunya.

Boas, ayahnya, tidak menemui ia dan Laurent sama sekali saat mereka meninggalkan rumah. Setidaknya mereka berpamitan pada Josh.

Mereka tidak membawa banyak barang. Ben hanya membawa pakaian, koleksi sepatu dan jam tangan mewahnya, buku, game. Sementara Laurent membawa pakaian, koleksi tas dan sepatunya...Yang ternyata tidak muat disimpan dalam apartemen sempit ini. Sementara ini Ben membiarkan koleksi-koleksi mereka tetap di tempatnya. Mungkin sebagian harus dijual.

Ben tidak membawa mobil Mazdanya karena Boas memintanya. Laurent berjanji akan membelikan mobil untuk Ben. Ibunya lumayan berada dengan usaha butiknya. Tidak sekaya Boas, tapi cukup di atas rata-rata untuk dianggap kaya.

Biar begitu, Ben tidak berencana menerima tawaran Laurent. Ia ingin mencoba menjadi orang biasa. Tanpa kemewahan....

Mungkin Hira bisa membantunya...

Ia mengingat bagaimana Hira berdoa sebelum makan atau saat gadis itu menolak ajakannya makan di luar kampus. Sejujurnya Ben cukup terkejut karena biasanya ia jarang ditolak. Gadis-gadis yang ia dekati akan tersenyum lebar setiap kali ia ajak kencan mewah dengan dijemput mobil Mazda kebanggaannya.

Dulu Ben tidak mau bergaul dengan orang seperti Hira. Bukan karena berbeda kelas tapi karena Ben tidak yakin bagaimana cara menghadapi orang yang memiliki gaya hidup jauh berbeda darinya. Dunianya sempit...

Mungkin diusir dari rumah salah satu cara Tuhan membayar dosanya. Menjauhkannya dari semua kenyamanan dan harus hidup sebagai orang biasa. Agar ia tahu bagaimana rasanya menjadi Hira....

Ben mengigit bibir bawahnya dan mengingat bagaimana gadis itu gemetar terduduk di pinggir jalan. Matanya nanar menatap ke arah sebrang dan tiba-tiba lolongan seperti serigala terluka keluar dari mulutnya.....

Prak! Tanpa sadar Ben menyenggol beberapa buku yang sudah ia susun. Ia gemetar...

Setiap kali mengingat hari itu, ia gemetar. Ia tidak tahu bagaimana harus melupakannya. Hanya dengan cara yang ia pikirkan 1 minggu yang lalu, mungkin ia bisa melenyapkan rasa sakit dipunggung dan dadanya setiap kali mengingat peristiwa 1 tahun lalu..

Hanya dengan cara itu..

***


Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.