Monday, February 3, 2020

REMEMBER YOU: Aku Tahu Isi Hatimu





Hira memasuki mobil Ben dengan perasaan kesal. Masih terdengar di kepalanya ibunya memperingatkannya untuk tidak memiliki hubungan khusus dengan cowo mana pun. Hira sudah 23 tahun, masa ibunya masih saja mau membatasi pergaulannya.

“ Kenapa?” tanya Ben melihat ekspresi Hira yang manyun. Hira menoleh padanya dan lagi-lagi terpesona pada wajah tampan Ben.


Mana bisa aku menolak Ben kalau dia seganteng ini, bisik Hira dalam hati dengan perasaan gemas dan tidak percaya bisa punya teman dekat seperti Ben. 

“ Ibu gw bawel. Ga bolehin gw gaul sama cowo.”

Ben terdiam sesaat, ia tampak bingung.

“ Maksudnya aku ya?” tanyanya, memastikan.

“ Hahahha, ga usah dipikirin. Udah, jalan yuk.” 

Hira memasang seatbeltnya dan memandang Ben, meyakinkannya untuk tidak terlalu ambil pusing tentang Riana.

Ben menyalakan mesin mobil dan menjalankannya dengan alis mengerut. Ia tampak agak kuatir. Hira sampai merasa tidak enak karena ternyata Ben sampai kepikiran seperti itu.

“Ben, beneran, ga apa-apa. Ibu gua mah ga usah dipikirin omongannya.” Hira menepuk bahu Ben, pelan. Cowo itu tersenyum simpul dan kembali konsen ke jalan di depannya. Hira melihat bahu Ben masih kaku. Mungkin ada yang Ben sembunyikan..Mungkin...

Dalam perjalanan Ben membiarkan radio mengiringi mereka sepanjang jalan dengan suara sayup-sayup. DJ radio Jok FM dengan penuh semangat menyapa pendengarnya yang pagi-pagi sudah beraktifitas atau malah sebagian besar masih rebahan. Jakarta, saat weekend adalah saatnya bangun siang, itulah keyakinan beberapa orang yang setelah 5 hari dalam seminggu bekerja dari pagi hingga malam. Tidak jarang harus lembur untuk menyelesaikan tanggung jawab yang seperti lingkaran setan, tapi tetap dibutuhkan demi perut kenyang dan tempat tinggal yang nyaman.

“ Lo suka denger Jok FM juga?” tanya Hira sambil terus menyimak ocehan dua DJ yang seru. Sesekali Hira tertawa pelan mendengar candaan mereka yang kadang garing.

“ Ga sih. Biasa aku denger Elshanti, buat dapet info jalan raya. Tapi ini karena lagi pengen santai aja.”

Tepat saat lampu merah dekat perumah mewah dan megah, lagu favorit Hira dalam minggu-minggu ini diputar.

“ Lagu Maroon 5. Gua lagi suka dengerin lagu ini. Langsung humming di telinga gua.”

“ Oh, ya? Aku juga!” Ben menaikkan suara volume dan membiarkan suara merdu Adam Levigne memenuhi ruang dalam mobil. Hira dan Ben ikut menyanyikan setiap liriknya dengan sepenuh hati.

“Toast to the ones here today
Toast to the ones that we lost on the way”

Ga tahu kenapa gua terngiang-ngiang di lirik ini. Seolah-olah gua pernah kehilangan seseorang. Padahal belum pernah loohh.” Jelas Hira saat lagu berakhir dan digantikan lagu hits terbaru lainnya.

Ben memandang Hira sekilas. Ada binar aneh yang sulit Hira mengerti di balik matanya. Yang pasti Ben tampak sedih...entahlah...

“ Kalau aku...Mungkin sepanjang hidup banyak kehilangan...” bisik Ben dengan suara tercekat. 

Hira menghentikan senandungnya yang mengikuti lagu saat mendengar pengakuan Ben. Ia menoleh pada Ben yang menatap ke jalan. Hira bisa merasakan kalau Ben tidak berani memandang Hira setelah menyampaikan isi hatinya.

“ Kehilangan kayak apa?” tanya Hira, penasaran tapi sangat hati-hati. Ia tidak mau terkesan terlalu kepo. Ya, Hira hanya ingin membuka hati untuk menjadi sahabat Ben. Mungkin, Ben butuh teman bicara.

“ Ehmm...” Ben batuk pelan. Ia tampak ragu untuk melanjutkan pembicaraan. Setir yang ia pegang ia genggam erat-erat. Hira bisa melihat urat-urat tangannya menonjol lebih dari biasanya.

“ Sorry, kalau lo ga mau cerita...”

“ Papi aku ga ngakuin aku sebagai anak sejak aku lahir.”

Hira, menegakkan posisi duduknya dan memandang Ben lekat-lekat. Cowo itu tersenyum kaku, menahan sesuatu yang Hira lagi-lagi tidak mengerti.

“ Kenapa?” tanya Hira tanpa sadar. Ia langsung menutup mulutnya agar tidak bertanya lebih lanjut. Jangan sampai Ben tersinggung karena Hira terlalu banyak mau tahu.

“ Ehmm... Mami selingkuh sebelum mengandung aku. Jadi, Papi nganggep aku anak hasil hubungan gelap Mami.”

Ben menoleh pada Hira dan tertawa pelan. Ia memandang ke jalan lagi dan menggaruk kepalanya pelan. Ia berharap ceritanya tidak membuat Hira menghindarinya.

Hira membuka mulutnya tapi tidak bisa bicara lagi. Tiba-tiba saja otaknya terasa kosong. Hatinya merasa sesak, sakit, iba, tapi ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Ben. Haruskah ia menghibur cowo itu atau diam saja?

“ Kamu tahu gosip tentang aku, Ra?”

Hira mencoba mengingat gosip apa yang tersebar tentang Ben di kampus. Tapi sepertinya karena ia kurang gaul, Hira tidak pernah mendengar apa pun.

“ Aku tukang party dan suka main cewe.”

‘Main cewe’ frasa itu tiba-tiba membuat Hira agak merasa tidak aman. Tapi ia berusaha menepisnya. 

“ Gosip itu bener. Tapi sejak setahun lalu aku sudah berubah. Karena ada satu kejadian, aku milih buat berubah. Aku harus berubah buat orang yang sangat penting buat aku. Berkat itu juga akhirnya aku bisa selesaikan TA aku dengan serius. Aku pengen saat dia bangun, dia bangga sama aku.”

‘Saat dia bangun’... Hira meraba-raba yang Ben maksud dengan ‘dia’. Kenapa dia harus bangun? Memangnya kenapa dia bangun? Tidurnya panjangkah? Sedang koma?

Banyak pertanyaan berkelebatan di kepala Hira. Bahkan para pengamen dan penjaja dagangan yang memanfaatkan situasi macet dan mencari perhatiannya lewat kaca mobil seperti tak terlihat olehnya.

“ Denger kayak gini, kamu masih mau temenan sama aku, Ra?” tanya Ben dengan wajah serius.

Hira tertegun dan memandang Ben, bingung. Memang kenapa dia tidak mau berteman karena cerita Ben ini? Apa hubungannya dengan pertemanan mereka?

“ Masih. Emang kenapa Ben?”

Ben, tertawa pelan, tampak lega.

“ Beberapa orang tidak mau dekat denganku saat tahu kondisi keluargaku yang kacau. Kalaupun ada yang dekat karena sering aku traktir. Hanya Pamela yang tidak pernah beranjak setiap kali aku sedang stress berat karena masalah keluargaku.”

“ Cantik dan baik,” gumam Hira membayangkan wajah Pamela yang tersenyum ramah padanya. Hira kira selama ini perempuan-perempuan cantik dan populer pasti sombong dan angkuh. Akhirnya ia menemukan satu orang yang mematahkan keyakinan Hira yang tidak masuk akal itu.

“ Iya, dia cantik dan baik.” 

Senyum lembut terkulum di bibir Ben mengiyakan komentar Hira. Matanya berbinar dan terlihat hidup. Hira ikut tersenyum melihat ekspresi Ben yang lembut seperti itu. Sepertinya Pamela sangat berarti bagi dirinya. 

***

Pamela mengerutkan wajahnya memandang Tigor yang cengar cengir di ruang tamu rumahnya. Ia menoleh pada ibunya dan siap mengeluarkan kalimat tidak setuju, tapi wanita itu langsung nyelonong ke dapur dan sok sibuk bersama ART mereka yang sibuk memasak.

“ Kan udah gua bilang ga usah dateng,” omel Pamela sambil berpaling dari Tigor dan hendak pergi ke kamarnya. Tigor di belakangnya tidak menjawab hanya cengengesan, mengikutinya dari belakang.

Pamela mengehentikan langkahnya dan menoleh lagi pada Tigor.

“ Siapa yang bolehin ikut ke kamar? Duduk di sana dan jangan beranjak sama sekali!” perintah Pamela sambil menunjuk sofa ruang tamu yang tampak sangat nyaman tapi kurang menarik bagi Tigor.

“ Ya, udah. Gua tunggu di sana. Tapi, kalau nanti butuh bantuan, bilang ya?” goda Tigor sambil mundur pelan-pelan, mendekati sofa yang Pamela tunjuk.

“ Nantulang (tante)! Mau dibantuin masak ga?” seru Tigor tanpa memalingkan pandangan dari Pamela sambil tetap tersenyum lebar. Pamela melotot, kesal.

Ting Tong!

Rasa kesal Pamela langsung lenyap saat mendengar bel pintu rumah berbunyi. Dugaannya, Ben sudah tiba. Bergegas ia ke depan rumah untuk membuka pagar.

Langkahnya yang awal begitu cepat karena bersemangat menyambut Ben, pelan-pelan melambat saat melihat ada Hira berdiri di sebelah Ben. Ada sedikit nyeri di dada Pamela melihat pemandangan itu.

“ Siapa tuh yang bareng Ben?” tanya Tigor yang ternyata sudah ada di belakang Pamela.

“ Hira,” jawab Pamela, singkat. Ia tidak mau Tigor bertanya lebih lanjut. Ia membukakan pintu pagar dengan wajah tersenyum lebar walau hatinya terasa tak nyaman.

“ Hai Hira. Thank you udah dateng dan mau bantuin.” sapa Pamela sambil melirik Ben yang tersenyum sumringah, bangga.

“ Hai, Ben! Lama ga ketemu!” Dengan sok akrab Tigor mendekati Ben dan merangkulnya kuat. Ia melirik pada Hira yang berdiri di sebelah Ben dengan wajah penasaran.

“ Cewe lo Ben?” tanya Tigor tanpa babibu. Pamela langsung menendang tulang kering Tigor dan menggandeng Hira hangat, mengajaknya masuk dan memintanya untuk tidak perlu sungkan.

“ Rumah kamu bagus, La, “ gumam Hira saat memasuki ruang tamu yang luasnya dua kali lipat ukuran ruang tamu keluarganya. Lampu gantung kristal dan sofa yang lembut, nyaman. Ternyata Pamela dari keluarga kaya juga. Hira tidak terlalu tahu banyak tentang keluarga Pamela, tapi dengan sinetron dan film yang banyak dibintanginya, tidak heran kalau dia punya rumah mewah kan?

Beberapa foto keluarga terpajang di dinding. Pamela ternyata anak tunggal. Terlihat jelas kedekatan Pamela dengan kedua orang tuanya. Ketiganya tersenyum sangat lebar. Ekspresi yang jarang sekali Hira ada di foto-foto keluarga yang pernah Hira lihat.

“ Iya, nyokap pinter nata rumah. Tapi ini bukan rumah gua sih. Rumah orang tua gua.” Pamela meluruskan. Ia tidak suka jika kekayaan orang tuanya diartikan sebagai kekayaannya. 

“ Nanti kan lo yang bakal nerima warisan juga,” celetuk Tigor. Pamela langsung mendelik padanya, memberi kode supaya cowo itu diam. Tigor mengangguk-angguk paham dan melangkah naik ke atas tangga menuju lantai 2.

“ Mau kemana?” sambar Pamela melihat Tigor yang menaiki anak tangga seperti sudah rumahnya sendiri.

“ Mau ke kamarmu, bantuin ngepak...” jelas Tigor, bingung. 

“ Ga usah! Lo duduk manis aja di sofa!” Pamela buru-buru menarik tangan Tigor, membawanya turun lagi dan menyeretnya agar duduk di sofa dengan manis. 

Pamela tidak mau suasana menjadi canggung dengan adanya Tigor. Ben, selalu menjadi lebih diam saat ada Tigor. Sementara Tigor akan terus mengoceh membahas banyak hal seolah tidak memberi kesempatan pada siapa pun untuk biacara. Setidaknya itu yang Pamela lihat.

“ Kalau gua di sini, ngapain pula gua datang?” gerutu Tigor sambil memasang hoody ke kepala, ngambek.

“ Udah, Tigor ikut aja, La. Ngapain dilarang?” Ben mendekati Pamela dan memandang Tigor tanpa ekspresi. Saat Tigor membalas tatapannya, Ben langsung membuang muka. Ia berjalan mendekati Hira dan menarik tangan Hira dengan lembut, menuntunnya naik ke lantai 2.

Pamela yang masih berdiri di dekat Tigor hanya bisa melihat dua orang itu dengan wajah kaku. Kakinya terasa berat untuk menyusul mereka. Sesaat ia menunduk untuk menenangkan suasana hatinya yang tiba-tiba terasa begitu tidak nyaman. Mendadak ia ingin sendirian.

Ia tidak menyadari tatapan Tigor yang melihat kegetiran di matanya. Tigor tahu pasti bagaimana perasaan Pamela pada Ben, tapi cewe itu terus menutupinya. Seperti orang bodoh. Sementara Tigor yang terus menunjukkan rasa sukanya, ditolaknya mentah-mentah. Berkali-kali. Sampai Tigor sudah kebal...

Sayangnya, ia tidak bisa menyerah.

Tigor bangkit dari duduknya dan langsung meraih kepala Pamela membenamkannya ke dadanya. Ia tidak sanggup berlama-lama melihat ekspresi patah hati gadis itu.

“ Ayooo, kita susul mereka. Makin cepat makin baik, biar kita ngedate setelah itu. Oke? Oke?!”

Tigor sudah bersiap menerima dorongan Pamela yang biasanya selalu berusaha menjauh setiap kali Tigor mencoba memeluknya. Hari ini ia tidak melakukannya. Ia membiarkan Tigor menuntunnya ke lantai 2 dengan wajah yang masih tersandar di dadanya.

Mendadak Tigor kuatir Pamela bisa mendengar debaran jantungnya yang sedikit kacau. Ia tidak menduga reaksi Pamela kali ini..

Ya sudahlah...

Di kamar Pamela, Ben dan Hira sudah mulai membungkus barang-barang menjadi paket yang siap dikirim. Dengan 4 orang bekerja sama, mereka tidak butuh waktu terlalu lama. 

“ Huaaahhh!!” Tigor berdiri tegak meregangkan otot pinggang dan punggungnya yang terasa kaku.

“ Ga yangka bungkus-bungkus doang secapek ini. Lo harusnya traktir kita nih, Ben,” goda Tigor sambil nyengir kuda. Ben yang biasanya berwajah datar pada Tigor tiba-tiba tersenyum ramah dan mengangguk mantap.

“ Iya, pasti. Makasih banyak ya sudah membantu. Tapi gua ga bisa traktir kalian hari ini. Kita janjian saja ya.”

“ Aseekkk...” Tigor menggoyangkan badannya, senang karena godaannya ternyata tersambut. Pamela memutar matanya melihat kelakuan Tigor yang memalukan.

Hira yang tidak terlalu mengenal Tigor hanya bisa tertawa geli melihat kelakuan cowo itu. Sedari tadi saat mereka mengemas paket, cowo satu ini terus bicara tanpa henti. Ada saja yang dia bicarakan mulai dari politik sampai teori bumi datar yang ia pikir ada benarnya juga. Hira mendengar ocehannya dari yang serius mendengarkan sampai mengabaikan karena sudah lelah memasang kuping.

“ Perlu gua temenin ga buat ngirim?” tanya Pamela saat Ben telah siap membereskan paket-paketnya dalam kardus-kardus yang lebih besar.

“ Ga usah. Gua bawa ke kantor ekspedisi JEN sekalian anter Hira pulang.”

Pamela mengangguk pelan sambil melirik Hira sekilas. Lagi-lagi ia merasakan ketidak nyamanan di hatinya.

“ Mending siapin gua makan siang,” pinta Tigor sambil merangkul Pamela dengan posesif tapi tatapannya tajam pada Ben seolah mengirimkan sinyal bahwa Pamela adalah miliknya. Ben yang sebelumnya sempat tersenyum ramah pada Tigor kembali menunjukkan wajah dingin, tanpa ekspresi.

Ia berbalik pada Hira dan memberi tanda pada cewe itu untuk mengikutinya. Hira tidak banyak bicara dan mengikuti Ben sambil membawa kardus berisi paket-paket yang tadi mereka bungkus.

Saat mereka sudah keluar dari kamar, Pamela langsung menghempas tangan Tigor dan memandang Tigor dengan ekspresi tidak suka.

“ What?” tanya Tigor, pura-pura bego.

“ Kamu ngapain sih?” tanya Pamela, geram.

“ Cuma mau ngasih tahu ke mereka kalau aku dan kamu ada ‘sesuatu’.” Tigor membuat tanda petik dijarinya sambil menyeringai lebar.

“ Ga ada sesuatu ya...”

“ Buat lo ga ada, buat gua ada. Gua lagi usaha biar nanti lo jadi ada sesuatu sama gua,” jelas Tigor, memaksa. Membuat Pamela semakin geram. 

Kelakuan Tigor hari ini lebih dari biasanya dan itu membuat Pamela marah. Bagaimana kalau Ben nanti berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Tigor? Walaupun ia dan Ben hanya bersahabat, Pamela tidak mau sampai Ben berpikir kalau ia menyukai cowo lain.

“ Dia udah milih cewe lain. Lo mau buntutin dia sampai kapan?”

Pamela langsung menoleh pada Tigor mendengar kata-kata cowo itu.

“ Apa?”

“ Lo pikir gua bego apa? Keliatan jelas gitu masih ngaku-ngaku sahabatan. Auk, ahhh.. kalau ga mau bikinin makan siang buat gua, gua balik aja. Bye!!”

Tigor tidak menunggu respon Pamela. Ditinggalkannya ia dengan ekspresi yang masih tertegun, bahkan wajahnya memerah.

Mungkin...

Mungkin sudah waktunya Tigor memberanikan diri melangkah lebih jauh...



***


Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.