Thursday, April 30, 2020

REMEMBER YOU: Membayar Kesalahan




Langit sore semakin kemerahan dan malam sudah bersiap berganti tugas dengan siang. Ben tidak berharap bintang akan muncul menemani malam. Jakarta tidak memerlukan bintang karena sudah dihiasi jutaan bintang lain.

Siapa peduli jika cahayanya palsu selama bisa memberikan terang dan menunjukkam jalan..

“Kamu gila… “

Suara Gaby terngiang lagi di kepala Ben. Ia tahu, sejak ia memutuskannya, ia gila. Saat ia menekan tombol add friend di profile Hira, ia gila. Bahkan saat ia bertatap muka dengan Hira di perpustakaan dan duduk di sampingnya, meminta nomor hpnya, bahkan mengajaknya makan siang bersama… Ya, dia memang gila. Ben tidak menyangkalnya… Ia sudah gila..

🎵🎵

Notifikasi pesan chat Ben berbunyi. Ia membukanya tapi tak berniat membalasnya.

Ben, udah sampe rumah? Thank you ya traktirannya.

Sejak bertemu Gaby, Ben semakin tidak banyak bicara tadi. Ben bisa merasakan ketidak nyamanan Hira. Ia terus memandang Ben dengan wajah penuh tanya, tapi ia menahan rasa ingin tahunya dan Ben bersyukur akan hal itu. Ia tidak siap dan sepertinya tidak akan pernah siap menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

🎵🎵

Satu pesan chat masuk lagi. Dari Mba Asih. Pesan yang Ben tunggu sejak tadi.

Bapak baru aja jalan. 

Tak lama setelah Ben menerima pesan itu, pintu gerbang besar rumah yang sejak tadi ia awasi terbuka otomatis. Beberapa detik kemudian sebuah mobil Jaguar XF keluar. Dari kaca depan mobil itu Ben bisa melihat Boas duduk di belakang bersama seorang perempuan.

Ben menundukkan kepalanya mendekat ke setir mobilnya agar tak terlihat saat mobil mewah itu lewat. Kalau apa yang sedang ia lakukan dikatakan kucing-kucingan, seperti pecundang, ia tidak akan keberatan. Ia melakukannya untuk Josh.

Saat mobil Boas sudah tak terlihat di ujung jalan, Ben turun dari mobil dan bergegas menghampiri gerbang yang hampir menutup. Ia menyelip diantara pintu gerbang yang hampir merapat. Satpam yang berjaga di pos dekat gerbang, bergegas keluar hendak mengusirnya, tapi langkahnya langsung tertahan saat melihat wajah Ben.

“Loh, Tuan Ben…”

Ben tersenyum pada Pak Kardin dan tanpa menunggu ijinnya, ia bergegas pergi menuju pintu samping rumah mewah itu. Pak Kardin yang sudah mendapat pesan agar tidak mengijinkan Ben dan Lauren datang hanya bisa termangu. Ia tahu untuk apa anak muda itu datang. Ia tidak tega mengusirnya.

Karena Ben sudah memastikan kalau Boas tidak ada di rumah, Ben tanpa ragu pergi menuju lantai 2. Beberapa kali ia berpapasan dengan para pelayan, mereka hanya menggumamkan namanya pelan tanpa komentar lebih. Bagi mereka akan terasa aneh harus mengusir tuan muda yang dulu pernah berlarian di rumah itu. Yang sesekali tertawa bersama mereka. Tidak jarang pula memperlakukan mereka seperti keluarga daripada pelayan.

“ Mba Asih..” panggil Ben sambil mengetuk pelan saat tiba di depan kamar Josh.

Tanpa menunggu jawaban, Ben membuka pintu perlahan. Di atas tempat tidur Josh masih terbaring seperti saat terakhir ia berpamitan meninggalkan rumah besar itu.

“Gimana keadaannya?” tanya Ben pada Mba Asih yang tampak sibuk mengecek obat-obatan Josh. Ben mendekati tempat tidur Josh. Meraih tangan abangnya itu dan membelainya pelan. Tangannya semakin kurus saja.

“ Tidak banyak kemajuan. Padahal sebelum kamu keluar dari rumah, dia sudah menunjukkan beberapa respon.” Jelas Mba Asih dengan nada agak kesal.

“ Bapakmu egois… “ bisiknya, sinis.

Ben hanya bisa tersenyum, mengerti kekecewaan yang Mba Asih rasakan. Ia sama senangnya dengan Ben saat tahu Josh sudah menunjukkan respon kecil dari jari-jarinya. Ia pikir kemajuan itu berkat Ben dan Gabby yang tidak bosan mengajaknya bicara.

“ Papi ga pernah ke sini?” tanya Ben, penasaran. Ayahnya itu bilang akan menjaga Josh menggantikan Ben. Ben ingin memastikan Boas menepati kata-katanya.

“ Tiap hari dia datang. Duduk di situ dan memegang tangannya. Tapi hanya itu.” Mba Asih menjelaskan. Ia menatap ke arah bangku di mana Ben duduk, tapi matanya menerawang, mengingat bagaimana Boas duduk tanpa ekspresi memandangi wajah putra sulungnya.

“ Kak Gabby masih sering datang?”tanya Ben lagi. Kejadian tadi siang kembali terlintas di kepalanya. Wajah Gabby yang tampak sangat terluka dan marah.

“ Hampir setiap hari dia datang. Banyak cerita pada Josh. Biasanya 2,3 jam lalu pulang. Sesekali dia mengelap badan Ben dan menyisir rambutnya. Beberapa kali dia juga mencukurkan janggut Josh. Dia sangat mencintai Josh. Sudah terlihat dari tindakannya.”

Ben mengangguk setuju.

Tidak ada yang lebih mencintai Josh selain Gabby. Ben bahkan berharap Gabby akan terus setia menunggu Josh,tapi dia tahu,itu egois. Harus sampai kapan Gabby menunggu Josh? Secara logika, bukan hal yang buruk kalau Gabby memutuskan meninggalkan Josh. Gabby harus tetap melanjutkan hidupnya.

“Josh,dengar kata Mba Asih kan? Gabby datang setiap hari. Ngurusin kamu. Ayoo dong bangun. Kasian dia kelamaan nunggu. Jangan sampai nanti malah orang tuanya yang menyeret dia menjauh…”

Ben diam sebentar mencerna kata-katanya sendiri. Ia pikir dengan menakut-nakuti Josh, dia jadi punya motivasi untuk cepat pulih.

“Tugas akhirku sudah mau selesai. Kamu ga mau lihat aku diwisuda? Kamu harus sudah sembuh sebelum aku wisuda ya?”permohonan yang itu lagi. Mungkin Josh sudah bosan mendengar permintaan Ben.

“Aku akan membayar semuanya Josh. Kesalahanku yang membuatmu seperti ini.”

Ben menggenggam tangan Josh lebih erat. Di kepalanya terbayang wajah Hira. Bukan Hira dengan senyuman ramahnya tapi Hira berwajah pucat dengan pakaian rumah sakit. Matanya kosong menatap jendela ruang perawatannya. Air matanya menetes sekali, dua kali, terus mengalir. Ia tidak mengusapnya, hanya terus menatap ke jendela. Tidak ada suara isakan atau tangisan. Ben bisa melihat luka menganga dalam hidupnya.

“Aku akan membayar perbuatanku,” bisik Ben lebih dalam. Dua wajah Hira tertumpuk dalam pikirannya. Hira yang menatapnya penuh perhatian dan Hira yang seperti tanpa kehidupan.

***

“Masa kalian ga ada yang liat mukanya sih?” tanya Riana, kesal. Matanya tajam menatap kedua putranya yang hanya bisa diam tertunduk.

Tadi sore Hira diantar pulang seorang cowo. Mereka kecolongan, tidak sempat melihat wajah cowo itu. Mahesa sibuk menonton video live Pamela di Instagram. Sementara Andra sedang sibuk chattingan dengan salah satu marketing hotel bintang 4 yang ingin menawarkan kerja sama.

“ Kalian ini niat ga sih jaga Hira?”desis Riana, kesal.

“Maaf, Ma,”mohon Andra sambil memijat bahu ibunya itu, berharap hatinya akan luluh. Biasanya jurusnya ini berhasil, tapi kali ini tidak.
Riana terlalu gelisah. Ia menepis tangan Andra dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, berharap semua ketakutan yang ia rasakan lenyap.

Andra dan Mahesa semakin gelisah melihat sikap Riana yang seperti itu. Sejak Hira hilang ingatan, ia mudah panik, cemas dan marah. Mereka sudah beberapa kali mengajaknya ke psikiater, tapi ia selalu menolak.

“Ma, beneran, Andra minta maaf. Mulai sekarang Andra akan cari tahu siapa itu Ben. Nanti kalau ada informasi, Andra pasti kasih tahu Mama.”

Andra menggenggam tangan ibunya erat-erat, berusaha menenangkannya. Mahesa yang merasa bersalah karena lebih memilih menonton artis idolnya, mengiyakan ucapan abangnya dengan wajah penuh keyakinan.

“Iya, Ma. Mama jangan kuatir ya..” tambah Mahesa.

“Lagi pada ngapain sih?”

Suara Hira yang memenuhi ruangan menghentakan jantung mereka. Andra spontan melepaskan genggaman tangannya dan berpura-pura memijat tangan ibunya. Sementara Mahesa langsung menyambar handphonenya dan pura-pura scrolling socmed.

“Tangannya masih pegel, Ma?”tanya Andra sambil memijit kecil-kecil tangan ibunya.

“Udah mendingan. Bahu Mama juga.”Riana mengikuti akting Andra berpura-pura sedang pegal.

Hira melihatnya dengan tatapan penuh curiga. Tadi mereka tidak seperti itu. Jelas-jelas mereka berbisik-bisik membicarakan sesuatu yang penting.

Tanpa melepaskan pandangannya dari keluarganya yang aneh itu, Hira menghampiri kulkas, mumbukanya, dan mengambil sekaleng cola. Ia buka cola itu dan minum beberapa teguk. Tanpa melepaskan pandangannya.

Andra masih memijat ibunya dan Mahesa masih sok sibuk dengan handphonenya tapi Hira bisa melihat abangnya itu sesekali mencuri pandang ke arahanya. Mencurigakan.

Hira mendekati mereka. Berdiri di depan mereka dan bertolak pinggang.

“Jangan coba-coba mata-matain kehidupan pribadi aku yaa. Aku udah gede.” Omelnya, mengingatkan. Diteguknya cairan cola yang tersisa dan ia lemparkan kalengnya ke tempat sampah tanpa menoleh. Kaleng masuk tepat ke tempat sampah. Andra dan Mahesa terpaku melihat poin yang dicetak Hira. Tanpa sadar Andra memberi tepuk tangan pelan. Ia belum tentu bisa melakukannya.

Tidak ada sanggahan dari dua abang dan ibunya, Hira kembali ke kamarnya dengan sedikit kesal. Tadinya ia berharap akan ada sanggahan tapi ternyata mereka hanya diam. Artinya, mereka benar sedang membicarakan Hira.

“ Apa susahnya ngomomg di depan mata gua?”geramnya sambil menaiki anak tangga dengan langkah kuat hingga satu rumah bisa mendengarnya.

“Pokoknya kalian harus cepat cari tahu. Jangan sampai ada masalah karena kalian terlalu lama cari informasi.” Tekan Riana dengan suara berbisik. Tepat saat pintu kamar Hira terdengar dibanting dengan keras.

Riana bangkit dari duduknya mengingatkan kedua putranya dengan telunjuk. Andra dan Mahesa menunjukkan jempolny setuju dan meyakinkan.

“Lo liat tadi ga?”tanya Andra, saat Riana sudah masuk ke kamar utama.

“Hiya… lebih jago dari lo die.”

“Adik kita mengerikan. Apa kita suruh kayak gitu lagi? Terus rekam. Kita bikinin channel khusus Hira…

“Ndra…fokus..”

Mahesa menepuk bahu abangnya, pelan. Pembicaraan mereka di luar topik yang seharusnya.

“Kalo gitu kita bikinin channelnya kalau masalah ini udah selesai.”

Mahesa hanya bisa memutar matanya melihat obsesi abangnya yang ingin mendulang uang dari internet. Sebaiknya ia saja yang memikirkan strategi mengali informasi tentang Ben. Andra orang lapangan, ia akan lebih banyak berguna untuk mengeksekusi strategi.
 
Iyahh… begitu saja.
Sementara itu, di kamarnya, Hira masih mengomel karna kelakuan kedua abang dan ibunya. Setahun ini mereka sudah terlalu menjaga Hira dan sekarang makin menjadi.

Hira menatap tugas Seminarnya. Tiga bab awal yang ia bisa gunakan untuk skripsi. Sudah setengah jalan dari kerangka berpikir yang sudah siapkan. Sekarang semua ide susunan kalimatnya lenyap.

Ia menutup laptopnya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Buku-buku psikologi yang tebal berserakan di sekelilingnya dan ia terlalu malas untuk membereskannya.

Hira tidak bisa memikirkan tugas. Sekarang yang ada di kepalanya adalah pertanyaan besar, “Kenapa keluarganya panik saat ia dekat dengan seorang cowo?”

Kenapa?

Apakah amnesianya berhubungan dengan cowo juga?

Hira benar-benar ingin tahu tapi kalau ia tanyakan langsung, pasti mereka akan ngeles jawab a, b, c yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaannya.

Apakah Hira buat mereka makin panik saja? Kalau mereka makin panik, pasti mereka akan membocorkan hal yang selama ini mereka sembunyikan. Iya kan?

“Iya, bener!” Hira bangkit dari tidurnya. Pikirannyan tiba-tiba seperti menjadi terang benderang. Ia bisa melihat wajah panik abang dan ibunya di kepalanya. Saking paniknya mereka akan menceritakan semuanya yang Hira tidak tahu. Seperti di film-film.

“Gua harus mulai dari mana?”

Hira membuka laptopnya lagi dan membuat catatan baru. Strategi untuk memanasi keluarganya dan memancing mereka mengatakan kebenarannya. Dengan senyum penuh kemenangan Hira mengetikkan semua idenya. Ia yakin akan berhasil.



Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.

Pic: Pixabay

No comments:

Post a Comment