Wednesday, May 27, 2020

REMEMBER YOU: Bukan Hanya Bayangan



“Ra,sini.”
Sebuah tangan yang besar dan hangat menarik tangannya lembut. Ada getaran hangat di dadanya. Genggaman tangan yang sangat ia kenal.
Kangen…
Ia kangen tangan itu…
“Ra, kalau rame gini gandeng gua aja. Gpp kan?”jelas orang itu sambil tersenyum manis.
Gigi somplaknya…
Hira menatap orang itu lekat-lekat, berharap bisa mengenalinya lebih jelas.
“Ra..”
Dia memanggil lagi. Hira menoleh dan tiba-tiba ia mendekat, menangkupkan kedua tangannya di pipi Hira.
“Jangan gitu lagi ya..”
Permintaan yang singkat tapi Hira merasakan gemuruh bahagia di hatinya.
“Ra! Jangan ke sini!”
Kali ini suara itu terdengar menjerit.
“Ra! Jangan ke sini!”
Hira menoleh, mencari ke sekeliling di mana suara itu berasal. Ia harus menemukannya.
Suara itu terus berteriak mengingatkannya, tapi Hira tak menemukannya.
Tiba-tiba dari jauh Hira melihat cahaya. Cahaya yang mendekat, semakin lama, semakin jelas. Cahaya berwarna jingga yang tiba-tiba memukulnya keras..

***
Biiipppp, biiipppp, biiippp
Suara alarm handphone membangunkan Hira. Di depan matanya laptopnya masih menyala.
Semalam ia menulis strategi untuk mengakali keluarganya sampai tertidur.
Hira mengusap air liur di sudut bibirnya. Sesaat ia merasakan hal yang berbeda. Ia merasa sangat lelah. Punggungnya terasa sakit seperti membawa beban berat. Mungkin karena posisi tidurnya.
Ia mengangkat tubuhnya dan berusaha duduk tegap. Aneh. Dadanya terasa sesak. Seperti ada gumpalan besar di dadanya yang memaksa ingin keluar.
“Ra, jangan ke sini!!“
Seruan keras itu terngiang lagi di telinganya. Punggungnya semakin terasa berat. Gumpalan besar di dadanya mendorong begitu keras memaksa keluar.
Hira meraih sisi ranjangnya, meremasnya dengan kuat. Ia menahan rasa sesak itu dengan susah payah.
Tidak boleh. Ia tidak boleh kalah dengan rasa sesak ini.
Hira berusaha menelannya dengan susah payah. Tanpa sadar air matanya mengalir.
“Ra,jangan ke sini!“
Ia tidak boleh kalah dengan rasa sesak di dadanya.
Dengan bergegas Hira berlari ke kamar mandi. Melewati Mahesa yang sudah bersiap mandi. Hira menutup pintu dan menguncinya. Dinyalakannya keran westafel agar suara saat ia memuntahkan isi perutnya tak terdengar. Tapi sepertinya sia-sia. Tak lama setelah muntahan keduanya, Mahesa menggedor pintu kamar mandi dengan kuat.
“Ra, lo kenapa? Oiii, buka pintunya! Lo ga papa kan? Ra!”
Keributan itu memancing Riana dan Andra menghampiri. Hira yang tadinya tidak ingin membuat ibunya cemas, sekarang berhutang penjelasan.
Memuntahkan isi perutnya membuat Hira merasa sedikit lega. Ia menyalakan flush toilet, mencuci tangan dan wajahnya tapi tak berniat langsung keluar. Tak dipedulikannya suara panik Riana memanggil namanya. Ia malah menurunkan tutup toilet dan duduk sebentar.
Ia merasa lelah. Entah kenapa.
Hira membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Air matanya mengalir tanpa permisi. Sudah lama ia tidak begini. Terakhir 3 bulan lalu dan berakhir dengan hampir overdosis.
Ia mau menelan obat resep psikiaternya sekaligus. Saat itu Andra memergoki dan langsung menepis tangannya hingga semua obatnya berjatuhan. Andra menyeretnya ke mini market dan membelikannya es krim. Tidak ada yang mereka bicarakan. Hanya makan es krim berdua dan pijatan lembut di punggungnnya. Selama makan es krim, air mata Hira terus mengalir. Andra tidak bertanya, seolah sudah mengerti.
Dulu hampir tiap bulan Hira mengalaminya, abangnya itu sudah paham.
Setelah beberapa bulan tidak merasakannya, Hira pikir ia sudah sembuh. Lalu datang mimpi semalam…
“Gua benci banget… “ bisik Hira, geram.
Hira membenci kondisinya. Ia benci melihat keluarganya kuatir. Ia benci dirinya yang tidak tahu apa yang ditangisi.
“Ra, buka!! Kenapa, sayang?! Kasih tahu Mama!
Andra buka pintunya! Nanti kalau adikmu kenapa-kenapa gimana?!”
Suara Riana bergetar. Pasti sudah menangis dengan air mata berderai.
Membayangkan kepanikan ibunya, Hira menguatkan hatinya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kuat. Ia lakukan beberapa kali sampai rasa sesak itu seolah pergi.
Ia bangkit berdiri, menggoyang-goyangkan tubuhnya agar rasa sakit dipunggungnya berkurang. Setelah merasa siap menghadapi keluarganya, ia mematikan keran air dan mengusap wajahnya.
Hira menghela napas sekali lagi dan perlahan membuka pintu. Ia baru membukanya sedikit dan tiba-tiba Andra datang dengan bahu yang siap mendobrak.
Brakk!
Andra mendobrak pintu yang sudah setengah terbuka dan berakhir mencium kaca pemisah tempat shower dan toilet. Hira yang melihat kelakuan abangnya mendadak lupa rasa sesaknya dan ternganga lalu tertawa puas.
Andra yang semula panik berbalik pelan, memandang Hira yang tergelak. Rasa nyeri di hidungnya berdenyut dengan keras. Ia mengusap wajahnya yang agak perih lalu mendekati Hira. Digetoknya kepala adiknya itu dan merangkul lehernya dengan keras.
“Puas ya? Puas?”geramnya. Tak dipedulikannya Hira yang meminta ampun,minta dilepaskan.
Andra merasa hampir mau mati tadi, membayangkan apa yang akan dilakukan Hira di kamar mandi. Andra bisa melihat mata Hira yang memerah, ia tahu apa yang dialami adiknya itu tadi. Andra tak mau membahasnya. Melihat Hira tertawa, sepertinya akan lebih baik pura-pura tak terjadi apa-apa.
Sambil terus mengunci leher Hira, Andra melirik ke arah Mahesa yang sedang menuntun Riana ke kamar utama. Riana tampak shok. Ia menangis, panik. Mahesa berusaha menenangkannya.
“Bang, sakit bang!! Patah beneran ntar nih leher!”omel Hira, masih berusaha melepaskan diri.
Andra melepaskannya saat Mahesa sudah masuk ke kamar bersama Riana dan menutup pintu. Ia memandang adiknya dari atas sampai bawah, memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
Syukurlah..
Hira tampak normal.
“Mau makan es krim?” tawar Andra. Hira hanya diam memandang abangnya dan tersenyum kaku.
“Yuk…”Hira mengiyakan. Ia menggandeng tangan Andra dan menyenderkan kepalanya di bahu Andra, bersiap menerima pengobatan.

***


“Ini pak kembaliannya,”

Andra memasukkan hpnya ke kantong celana dan menerima uang kembalian belanjaan. Sekilas ia mengedipkan matanya pada kasir yang cantik sambil mengucapkan terima kasih, tapi hanya dibalas tatapan datar dan buang muka.

“Apes mulu kalau soal cewe,” gumamnya,menyesali cara pendekatannya yang norak.

“Nih, makan sampe puas!“

Andra menyodorkan kantong plastik berisi macam-macam es krim pada Hira yang sudah menunggunya di bangku teras mini market. Ia mengambil satu es krim rasa mangga, membukanya dan mulai menikmatinya sambil memandangi adiknya yang masih terus melamun. Tapi kali ini sambil mengulum es krim.

Sebenarnya, Sabtu lalu, Mahesa sempat cerita kalau Hira menunjukkan gejala seperti 1 tahun lalu. Hanya sebentar tapi ia tetap kuatir.

Kuatir, tapi masih tetap mengutamakan nonton IG live artis kesayangannya.

Andra mendengus pelan mengingat Mahesa yang seperti budak cinta pada artis Pamela. Entahlah apa yang ia lihat dari artis berdarah batak itu sampai bisa jadi budak cinta alias bucin.

“Ra, minggu depan Babe pulang.”

Andra memecah keheningan diantara mereka.

Hira langsung menoleh pada Andra. Matanya melotot penuh semangat. Hampir saja ia menjatuhkan es krim di tangannya.

“Beneran? Bukan bulan depan?” tanya Hira, tidak percaya.

“Ngapain juga gw bohong? Cuti lebih awal katanya,”

Hira menggigit es krimnya sedikit lalu menarik tangan Andra agar duduk di sampingnya. Andra tidak menolak, ini tanda kalau Hira sedang berusaha terbuka padanya.

“Gw… kumat lagi, Bang.. “ Hira menundukkan tubuhnya, seolah ingin bersembunyi. Andra tak bicara, ia menghabiskan es krimnya dengan cepat dan tetap menatap lurus ke jalan raya. Ia menunggu Hira membuka hatinya lebih lebar.

“Gw.. Mimpi aneh sebulan belakangan. Tapi hari ini mungkin yang terburuk atau mungkin belum yang terburuk…”

Hira menarik napasnya, berat. Ia habiskan es krim di tangannya lalu membuka satu lagi. Melahap segengahnya dalam 1 suapan.

“Lo pernah kangen sama orang yang belum pernah lo temuin, Bang?”tanya Hira, menatap Andra lurus, berharap mendapat jawaban yang memuaskan. Tapi Andra hanya menggeleng.

Andra tahu siapa yang Hira maksud tapi lidahnya telah berjanji untuk menyimpan rahasia sampai tiba waktu yang tepat, membicarakannh tanpa kekuatiran.

“Sebulan ini gua mimpi orang itu terus, Bang. Ada rasa kangen setiap gua bangun. Tapi lebih sering perasaan sesak.”

Mata Hira menerawang mengingat rasa sesak di dadanya setiap kali suara itu terngiang di kepalanya. Suara yang memanggil namanya dengan lembut dan manis.

Setiap kali mengingatnya seluruh saraf Hira bergejolak, ingin melompat mencari orang itu sesegera mungkin. Ia ingin bertemu, ingin melihat wajahnya, ingin menyentuhnya. Memastikan dia benar-benar ada…

Tapi dia harus cari kemana? Wajahnya saja Hira tidak tahu. Apalagi nama, tempat tinggal. Dia benar-benar hanya sosok dalam mimpi.

“Emangnya kita bisa punya perasaan sekuat itu pada seseorang di dalam mimpi? Setiap kali bangun, hati gua kayak patah, Bang. Sakit banget. Anehhh banget…”

Hira memegang dadanya kuat dan air matanya mengalir tak terbendung. Rasa sesak itu mengalir meminta dilepaskan.

Perlahan Andra menarik kepala Hira bersandar di bahunya. Ia biarkan adiknya itu menangis melepaskan bebannya. Dirangkulnya dengan lembut bahu Hira yang gemetar hebat menahan tangisnya.

Hira membenamkan wajahnya di dada Andra berusaha menyembunyikan tangisnya…

Kakak beradik itu tak mempedulikan tatapan ingin tahu orang-orang yang keluar masuk mini market. Andra menampung setiap beban Hira yang tumpah.

Hanya ini yang bisa ia lakukan untuk Hira. Agar ia bisa bertahan. Agar ia bisa hidup.

***

Sisa es krimnya sudah meleleh. Hira mengusal ingusnya dengan lengan bajunya dan tertawa lebar membalas tatapan hangat Andra.

“Udah lega?”

Hira mengangguk mantap.

“Kalau mimpi aneh lagi datang aja ke abang atau ke Mahesa atau ke Mama. Jangan ditahan Ra.”

“Jadi, benar dia ada hubungannya sama kecelakaan gua satu tahun lalu, Bang?”

Andra terdiam mendengar pertanyaan Hira yang mendadak. Ia bangkit berdiri dan mengikat rambut gondrongnya lalu menatap Hira.

“Iya, makanya lo harus usaha buat ingat. Lo harus inget dia, Ra.”

Hira diam.. Ia tidak menyangka…

“Rasanya ga adil lo ngerasain kayak tadi tapi ga tahu sebabnya. Sekarang gua sedikit kasih clue.. Sisanya.. Lo harus berusaha mengingatnya…”

Hira memandang Andra, tak berkutik.

Ternyata dia benar-benar ada.

Cowo itu bukan bayangan dalam mimpi Hira semata?

Jantung Hira berdegup kencang membayangkan bisa bertemu cowo itu. Benar-benar bisa bertemu dan memandang wajahnya.

Ia akan berusaha..

Ia akan berusaha sembuh untuk bisa memastikan siapa cowo itu..

“Matenglah gua..” Andra mengeluh, menyesalkan apa yang ia katakan pada Hira. Diacak-acaknya rambutnya yang tadi sudah terikat rapih. Ia membayangkan omelan dan kepanikan Riana.

Hira sendiri tidak peduli, ia merasa mendapat Jackpot.

“Ra, jangan bilang Mama kalo gw bilang ini..” mohon Andra.

Hira mengangguk mantap. Dipeluknya lengan kekar abangnya yang nyaman.

“Makasihh ya, Bang… “ bisik Hira.

Bisikan yang cukup untuk membuat Andra membatalkan rasa sesalnya. Ia akan bersiap menerima omelan ibunya atau keplakan keras ayahnya di kepala batunya.


***


Pic: https://pixabay.com/photos/bed-linen-sheets-cover-pillows-731162/



Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.

No comments:

Post a Comment