Saturday, July 4, 2020

REMEMBER YOU: Kacau..Biarlah..




“Saya ga bisa dapet obat double?”Laurent memastikan sekali lagi permintaannya tidak ditolak, tapi apoteker yang ada di depannya hanya tersenyum manis dan menggeleng. Tadinya Laurent sudah mau membuka dompetnya dan mau memberi ‘salam tempel’. Siapa tahu si apoteker berubah pikiran. Tapi ia urungkan niatnya. Dulu dia sangat membenci orang yang KKN, jangan sampai ia menjadi salah satunya.


Laurent membuka plastik berisi obat psikiatrinya. Masih obat yang sama seperti bulan lalu ia terima. Setidaknya dokter E tidak menggantinya. Ia sudah merasa cocok dengan obat yang sekarang.
Tanpa melihat langkahnya, Laurent berjalan sambil memasukan plastik obatnya ke dalam tas. Ia tidak melihat papan peringatan lantai sedang dipel.

Tepat saat sebuah suara berteriak.

“Tante awasss!”

Laurent merasakan licin di telapak sepatunya. Dalam sepersekian detik ia hilang keseimbangan. Tangannya menggapai-gapai udara. Tidak ada yang bisa menjadi pegangan. Ia memejamkan matanya bersiap merasakan benturan keras.

Hap!!

Tiba-tiba dua tangan menangkap ketiaknya. Kepalanya mendarat di bahu yang kecil. Beberapa saat Laurent terpaku, berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Sepertinya, ia baru saja selamat dari kecelakaan.

“Tante ngga apa-apa?” tanya suara yang tadi berteriak.

Laurent segera menegakkan duduknya. Orang-orang yang ada di lobi rumah sakit langsung menghela napas lega.

“Bu, ngga apa-apa?” tanya security yang tampaknya tak kalah terkejut. Ia meraih lengan Laurent dan membantunya berdiri.

Security dan orang yang tadi menahan tubuhnya menuntun Laurent untuk duduk. Syukurlah mereka membantu, kaki Laurent terasa lemas, saking terkejutnya.

Gadis yang menolongnya menepuk-nepuk punggungnya pelan. Ia membuka botol mineralnya yang sepertinya baru ia beli di mini market dan menyodorkannya pada Laurent. Laurent menerimanya tanpa menoleh dan meminum beberapa tegukan.

“ Makasih,” bisik Laurent dengan suara serak. Ia masih bisa merasakan jantungnya berdegup sangat kencang. Tangannya basah oleh keringat dingin.

“ Tante sendirian? Ada yang jemput ga?” tanya gadis itu lagi, penuh perhatian.

“ Asisten Tante sebentar lagi dateng,”jelas Laurent sambil menoleh pada gadis itu. Ia ingin mengingat wajah orang yang sudah membantunya.

Saat melihat wajahnya, Laurent merasa sekelilingnya seperti berhenti bergerak. Nafasnya tercekat. Jantungnya sekarang berdetak terasa sangat lambat.

“ Oh, tante ada asisten?” gadis itu membuat bunyi ‘O’, pelan. Tampak terkesan dengan kata ‘asisten’.
Laurent terus menatap wajah gadis itu. Ia tidak mungkin salah mengira. Gadis itu benar-benar dia. Laurent masih mengingat dengan jelas wajahnya walau saat itu ia tampak pucat, seperti tak bernyawa. Tatapannya kosong tak bereaksi pada apa pun.

“Nama kamu…siapa?” tanya Laurent, terbata. Ia berharap kalua ia salah mengenali. Berharap kalua gadis ini bukan orang yang ia tahu.

“Hira,Tante.”

Hira mengulurkan tangannya untuk memberi salam tapi tangannya tergantung lama, tak disambut. Wanita seusia mamanya yang ada di hadapannya tampak lebih pucat dari saat ia hampir terjatuh.
Apa ada yang salah? Piker Hira, kuatir.

“Tante ngga apa-apa?” tanya Hira, memastikan lagi. Jangan-jangan tadi beliau ada terluka.

“Iya…Tante ngga apa-apa.” Laurent menjawab dengan suara yang hamper tak terdengar. Ia memandang Hira dari atas sampai bawah. Gadis itu benar-benar dia.

“Kamu…berobat…” Laurent ingin mengajukan pertanyaan ragu-ragu.

“Iya tante. Ke dokter Eril.”jelas Hira membuat napas Laurent semakin berat.

Ke dokter Eril berarti masala psikiatri. Masalah psikologis. Laurent tahu pasti karena tiap bulan ia kontrol pada dokter yang sama agar ia bisa tetap produktif di tengah-tengah ia menghadapi gangguan moodnya.

“Saki tapa? Tante juga dari situ..”

Laurent menegakkan duduknya dan menatap Hira lebih dalam. Gadis itu tampak terkejut dengan sikap Laurent, tapi Laurent tak menggubrisnya. Ia ingin tahu perkembangan tentang Hira.

“PTSD (post traumatic stress disorder), Tante..”Hira menjawab, ragu. Haruskah ia menceritakan lebih detil tentang amnesianya?

“ Oh, kasihan. Kecelakaan?” tanya Laurent membuat Hira mulai tidak nyaman. Kenapa wanita ini ingin tahu lebih banyak.

“I..Iya, Tante. Setahun lalu.”

Hira sudah bersiap untuk pertanyaan selanjutnya, tapi Laurent tidak melanjutkan. Ia hanya menatap Hira dengan iba.

Tersadar kalua dirinya terlalu lama menatap Hira, Laurent langsung mengibaskan tangannya di depan wajahnya sendiri. Gadis itu pasti bingung dengan sikapnya yang terlalu mau tahu.

“ Tante juga baru dari dokter Eril. Mood disorder, depressi sama kecanduan alkohol,” jelas Laurent sambil membuka tasnya dan mengeluarkan kartu Namanya. Ia tidak menutupi penyakitnya. Ia tidak peduli orang-orang membicarakannya di belakang. Biar orang tahu faktanya.

“Ini kartu nama tante, hubungi tante sekali-sekali ya. Boleh tahu nomor hp kamu?”

Hira menerima kartu nama yang disodorkan Laurent dan membacanya dengan wajah melongo. Ia tidak percaya ini. Laurent Sudrajat, Founder & CEO Gaby & friends, clothing line kelas atas. Uang bulanan Hira palingan hanya cukup untuk membeli 1 produk kecilnya. Itu pun diskon.

Mimpi apa dia semalam bisa sampai kenalan sama orang berpengaruh ini?

“Boleh minta nomor hp kamu?”tanya Laurent sekali lagi karena Hira tampak sangat takjub membaca pada kartu nama yang ada di tangannya.

“ Oh, iya tante..” Hira menyebutkan nomor handphonenya dan wajahnya tampak datar, masih tidak percaya nomor handphonenya tersimpan dalam kontak orang penting.

“Bu…”

Entah sejak kapan, tahu-tahu seorang wanita berambut pendek berdiri di dekat mereka. Wanita itu tampak sangat sederhana. Makeup tipis, blous warna krem, celana bahan dan sepatu flat. Tapi dari cara dia mengambil tas Laurent dan menuntunnya, Hira bisa melihat kalua dia cekatan dan bisa dipercaya.

“ Yul, ingat-ingat nona ini ya. Kapan-kapan mungkin saya mau ketemuan dengan dia. Hira, ini Yuli, asisten saya. Panggil aja Ci Yuli. Umurnya belum 30.”

Hira mengangguk pada Yuli dan dibalas anggukan pula dengan tatapan yang lekat. Hira bisa melihat kalua Yuli agak terkejut saat mata mereka bertemu, tapi ia dengan cepat menyembunyikannya. Benar-benar ahli.

“ Iya, bu. Akan saya ingat. Terima kasih buat bantuannya.”Ci Yuli tersenyum lembut, lalu menuntun Laurent berjalan kea rah pintu lobi.

Laurent melambaikan tangan pada Hira dan Hira membalasnya dengan bingung. Ia bisa mencatat kejadian hari ini di blognya sebagai ‘kejadian luar biasa’. Boleh kan Hira pamer di blognya? Walaupun mungkin ga akan ada yang percaya.

***
Hira menahan napasnya merasakan gerakan lembut jemari Ben di rambutnya. Ia menyingkirkan daun-daun yang berguguran di atas kepala Hira.

“ Heheheh…”tanpa sadar Hira cengengsan untuk menutupi rasa groginya dan ia menyesalinya.
Hari ini setelah makan siang, Ben mengajaknya duduk-duduk di taman kampus. Minggu depan ia akan sidang TA dan ia berusaha menguasai teori-teori yang menjadi dasar Tanya. Ia minta Hira menemaninya sementara ia belajar.

Daripada menemani, Hira lebih merasa seperti diajak piknik, melihat pemandangan indah. Mukanya. Iya, mukanya Ben itu entah kenapa seperti memancarkan aura yang membuat Hira merasa lebih relax. Berkali-kali ia bertanya dalam hati, ini orang manusia atau malaikat? Berkali-kali juga ia bertanya dalam hati, gua mimpi bukan sih? Beneran ini orang temenan sama gua?

“ TA kamu tentang apa?” Hira mengalihkan perhatiannya pada diktat dan buku yang sedang Ben baca. Ia sedang berusaha untuk tidak terlalu focus memandangi Ben. Ia takut mabuk.

“Animasi edukasi tentang disiplin berlalu lintas.”

Hira bengong mendengar jawaban, Ben. Ga salah? Kok kayak anak TK.

Ben tersenyum simpul melihat reaksi Hira. Sudah banyak orang yang bingung dengan proyek TA Ben yang terlihat sepele. Setelah Ben jelaskan, baru mereka mendukung dan memberi apresiasi.

“ Ini bukan animasi biasa.” Ben mengeluarkan satu bundle dokumen berisi penjelasan animasi yang ia buat.

“ Aku bikin animasinya beberapa bagian. Semuanya detil tentang disiplin berlalu lintas yang kadang orang kita belum engeh. Misalnya, gimana cara nyalib kendaraan lain yang bener. Atau misalnya saat di perempatan jalan yang ga ada lampu merahnya karena bukan jalan utama, kita harusnya gimana. Harusnya kan memperlambat laju atau berenti sebentar, liat kanan kiri, baru lanjut. Kalau ada kendaraan lain pun ada aturannya siapa yang harus didahulukan. Semuanya ada tertulis di Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Aku bikin animasi ini dalam Bahasa sederhana supaya orang awam bisa lebih ngerti.”

Hira membuka-buka lembaran persentasi itu dan terkagum dengan banyaknya aturan yang baru Hira tahu benar-benar ada. Pantas saja kecelakaan lalu lintas menjadi salah satu penyebab kecelakaan tertinggi. Siapa yang mau susah payah baca undang-undang yang rumit, ngejelimet dan super detil? Tapi ide Ben ini sepertinya akan sangat membantu polisi lalu lintas untuk memberi edukasi.

Kenapa dia keren banget sih? Jerit Hira dalam hati, setelah melihat semua bahan persentasinya.

“ Gimana?” tanya Ben setelah Hira selesai membaca dan menyerahkan dokumen persentasi Ben.

“ Lo bakal ngebantu polisi ngurangin angka kecelakaan lalu lintas.”Hira mengacungkan 2 jempolnya dan mengangkat kakinya menunjukkan ia memberikan 4 jempolnya untuk Ben. Ben tertawa renyah dan membuat pipi Hira memanas.

“Ra, muka kamu kok merah? Kamu demam?”

Ben menempelkan tangannya untuk mengecek suhu tubuh Hira. Bukannya jadi tenang, wajah Hira semakin terasa panas. Ben terlalu banyak menyentuhnya. Sekarang Hira merasa seperti ada uap panas menyembuar dari kepalanya.

Anjir, bisa mati di tempat gua. Ganteng overload itu bahaya. Apalagi kalau di depan mata, Hira menjerit dalam hati. Haruskah dia menghubungi UGD?

Takk!!

Tiba-tiba sebuah benda melesat melewati wajah Hira dan Ben. Benda itu mengenai batang pohon dan jatuh diantara tanaman hias. Hira dan Ben langsung menoleh ke arah benda itu dilempar.

“Siapa tuh? Bahaya tahu!” seru Ben, galak. Ia bangkit berdiri dan mendekati bangunan lab mesin, tempat mahasiswa jurusan teknik kuliah praktek. Di belakang bangunan itu terlihat bayangan orang yang tampak sibuk. Entah apa yang dilakukan orang-orang itu.

Beberapa mahasiswa memang sering menjadikannya lokasi kegiatan ‘terlarang’. Entah transaksi barang  seperti flash disk berisi koleksi jurnal untuk diplagiat, blue film, sampai jual beli doping obat stimulan agar kuat bergadang pada saat ujian semester.

“Kan gua bilang juga apa! Bakak ketahuan dah!”bisik salah satu dari mereka sambil berusaha menutupi wajah. Mereka dua orang memakai masker dan topi hitam. Perawakannya menunjukkan mereka dua laki-laki dewasa. Salah satunya berambut sebahu, diikat ke belakang.

“Abang? Ngapain di sini?”

Hira yang ternyata sudah berdiri di samping Ben menatap dua orang itu dengan tidak percaya. Ia mendekati mereka, menarik topi dan maskernya. Dua laki-laki itu salah tingkah. Mau kabur tapi tidak tahu mau lewat mana. Tatapan tajam Hira pun sudah cukup untuk mereka membatalkan rencana langkah seribu.

“Ngga ada apa-apa. Kita cuma mau liat-liat. Ya kan?”Andra dan Mahesa berceloteh tak jelas, menutupi tujuan utama mereka memata-matai Hira. Lebih tepatnya cowo yang sedang dekat dengan Hira.

Rencana mata-mematai dipimpin oleh ayah mereka yang besok akan pulang. Andra dan Mahesa ditugaskan untuk menggali sebanyak mungkin informasi pria yang sedang dekat dengan Hira. Karena strategi stalking social media tidak menghasilkan banyak informasi yang berarti, mereka memakai strategi gerilya 2 dengan memata-matai. Sejauh ini informasi yang mereka dapatkan tidak begitu banyak.

Namanya Benedictus
Mahasiswa tingkat 7
Sedang menyiapkan sidang TA
Anak konglomerat
Orang yang dingin tapi baik

“Ga gini ya mainnya. Pakai mata-matain Hira!”omel Hira dengan wajah kesal, tatapan tajam, siap mencakar jika salah 1 dari abangnya itu berulah.

“Ya, kalian ngapain pake sentuh-sentuhan segala? Kalian pacaran? Suami istri?”  komplain Andra. Membuat kepala Hira panas karena malu.

“Bukan urusan abang ya.”bisik Hira di telinga Andra dengan gigi terkatup.

“Liat ntar di rumah.. “ geram Hira, mengancam.

“Ben? Hira? Lagi ngapain di sini?”suara merdu Pamela mengalihkan kakak beradik itu.

Mereka tidak menyadari sudah menjadi tontonan mahasiswa mahasiswi yang hilir mudik di sekitar Lab Mesin. Melihat wajah cantik Pamela, Hira merasa malu setengah mati. Kenapa hidupnya tidak ada anggun-anggunnya? Punya dua abang walaupun ganteng, tapi kelakuan lebih absurd. Banyak cewe yang mendekat jadi ilfil karena kelakuan mereka yang tidak jelas.

“ Hai, Pamela,” sapa Hira dengan wajah menahan malu. Andra dan Mahesa yang terpesona melihat Pamela sudah mau mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri tapi Hira memukul keduanya dengan keras.

“Ini abang-abang gua lagi main ke kampus,” jelas Hira sambil terus menepis tangan Andra yang berusaha bersalaman dengan Pamela. Pamela dan Ben yang melihat kelakuan kakak adik itu hanya bisa senyum-senyum menahan geli.

“ Saya Mahesa! Programer freelance! Kalau kamu butuh programmer, bisa hubungi saya.” Tiba-tiba saja Mahesa sudah ada di hadapan Pamela, memberjkan kartu namanya yang berwarna pink.

“Wow, pink!”Pamela membaca kartu nama itu dengan takjub.

“Saya cowo, tapi mendukung kesetaraan gender. Termasuk soal warna. Warna itu netral. Tidak ada jenis kelamin.”

Pamela menggut-manggut kagum dengan penjelasan Mahesa. Melihat respon Pamela yang positif, ia menoleh pada Hira dan Andra, mengepalkan tinjunnya penuh semangat. “Yes!” bisiknya, girang.

Hira menarik Andra dan Mahesa agak menjauh dari Ben dan Pamela. Bagaimana pun ia tidak mau setengah hari ini dimata-matai kedua abangnya.

“ Abang berdua pulang ya. Hira ga mau sampai liat kalian mata-matain Hira lagi,” pinta Hira dengan tegas. Ia menatap kedua abangnya dalam-dalam. Ia ingin keseriusannya terhujam ke dalam bagian paling dalam alam bawah sadar mereka. Ya…sebenarnya bukan begitu juga caranya. Pokoknya mereka harus paham.

“ Hira akan jaga diri. Hira tahu kenapa abang berdua mata-matain Hira. Iyaaaa..Pokoknya Hira akan jaga jarak,” Hira meyakinkan kedua abangnya lagi yang masih tampak ragu-ragu untuk meninggalkannya.

Merek pikir, bagaimana nanti kalua Ben menyentuh Hira lebih dari yang mereka lihat tadi. Bagaimana kalua Hira terjebak dalam pesona laki-laki tampan busuk itu?

“ Pokoknya Hira bakal jaga jarak!” geram Hira melihat kedua abangnya menatap Ben dengan mata tajam, penuh curiga.

“ Pulang sana!” Hira mendorong Andra dan Mahesa ke  arah gerbang terdekat dengan taman kampus agar segera enyah dari pandangannya.

“ Pamela..Jangan lupa hubungi saya yaaa..” pinta Mahesa saat melewati Pamela. Hira mengibaskan tangan dan kakinya agar mereka segera pergi. Mereka berdua membuatnya malu sekali.

“Kakak-kakak kamu ada perlu apa ke kampus kita? Dulu mereka kuliah di sini juga?” tanya Pamela saat Andra dan Mahesa sudah menghilang diantara mahasiswa yang wara wiri.

“ Itu..mereka ada perlu sama gua. Sudah beres sih. Mereka bukan lulusan kampus sini. Abang gua yang paling tua ga kuliah. Dia lebih suka backpacker sambil nulis blog dan ngevlog. Kalau abang kedua gua, dia lulusan Maranatha, Bandung. Udah 3 tahun ini jadi freelance programming dan web design.”

Pamela dan Ben mendengarkan cerita Hira dengan kagum. Ia tampak bingung dengan respon mereka berdua.

“ Aneh ya? Keluarga gua emang agak aneh. Suka pada hidup seenaknya. Mereka punya uang banyak juga masih numpang di rumah ortu gua hahahhaha…”Hira tertawa garing mendengar ocehannya sendiri. Orang tua mereka sudah mengusir mereka sejak dua tahun lalu karena sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Tapi mereka terlalu malas untuk mencari tempat sendiri. Alasannya banyak, tidak mau meninggalkan Mama dan Hira sendirian, takut tidak ada yang menjaga dua wanita kesayangan mereka. Padahal sebenarnya mereka ingin bermanja-manja supaya saat lapar sudah ada makanan. Oh ya, tentu saja itu alasan paling masuk akal di kepala Hira.

“Keluarga lo lucu. Keren juga. Selama ini gua tahunya orang tua malah maksa anaknya tinggal serumah, harus berkarir di bidang yang mereka mau.”

Sambil berjalan ke arah Gedung A Pamela dan Hira mulai asik berdiskusi sementara Ben menyimak.
“ Bokap awalnya ga suka sih dengan keputusan mereka. Makan apa? Yakin bisa hidup dengan karier yang kayak gitu? Tapi ya gitu, keras kepalanya mereka warisan dari Papa juga. Mereka bodo amat dan buktiin dengan cari duit yang banyak. Papa mulai diem pas mereka patungan beliin jam tangan mahal buat Papa. Ngasihnya dengan muka bangga dan ngeledek bokap sih,”Hira tertawa pelan membayangkan wajah kedua abangnya yang mendengus bangga saat mata ayah mereka terbelalak melihat isi kotak hadiahnya. Jam Victorinox Swiss Army yang sudah lama ia inginkan. Sejak itu tidak pernah ada kalimat complain dari ayahnya. Hanya mengingatkan untuk terus tekun dan bertanggung jawab dengan pekerjaan mereka.

“ Abang-abang kamu hebat yaa. Gua kuliah bisnis ini aja karna dipaksa Papa. Biar bisa lanjutin perusahaan keluarga katanya. Padahal gua pengen banget masuk fashion designer ESMOD. Sekarang akhirnya gua banyakin main ke tempat nyokap Ben, belajar tentang fashion di situ dikit-dikit.”Pamela bercerita dengan mata berbinar. Setelah sekian lama, akhirnya ada seseorang yang ia ajak bicara tentang cita-citanya selain Ben. Apalagi Hira perempuan. Perempuan pasti bisa mengerti pikiran sesama perempuan. Walau tidak semua begitu. Teman-temannya sendiri selalu bilang Pamela tidak perlu bersusah payah mengejar karir ini itu. Dia sudah mendapatkan warisan, karir artis cemerlang, tidak perlu takut lagi akan masa depan yang suram. Buat apa lagi punya cita-cita. Perkataan yang mematahkan semangat Pamela untuk mengejar hal-hal yang ia sukai.

Untungnya Ben tidak begitu. Ben malah menawarkan Pamela untuk belajar di butik Tante Lauren. Dia tidak perlu membayar biaya belajar karena Tante Laurent tidak membuka kursus. Malahan beberapa kali beliau mengijinkan gaun rancangan Pamela di pajang di etalase butik dan hasil penjualannya diberikan pada Pamela.

“ Lo belajar rancang fashion? Padahal lo udah mapan bisa aja santai-santai. Hebat banget masih mau belajar ngejar cita-cita. Gua malah lebih suka rebahan..”Hira dan Pamela tertawa mendengar ocehan Hira. Mereka tidak menyadari pandangan Ben yang sayu, mengamati mereka berdua dengan sendu.

Hira dan Pamela bisa akrab apakah hal yang baik atau malah bencana untuknya? Ia merasa masalah yang akan menyeretnya pada kekacauan sedang ada di depan mata. Tapi entah kenapa, ia tidak berniat untuk menghindarinya.



SEBELUMNYA| BERSAMBUNG


Dilarang mengcopy postingan di blog ini tanpa seizin penulis. Untuk penggunaan content atau kerja sama silahkan hubungi author di email lasma.manullang230@gmail.com. Terima Kasih.

Pic: pixabay

No comments:

Post a Comment