Showing posts with label FF. Show all posts
Showing posts with label FF. Show all posts

Saturday, June 4, 2016

Aku Gila

"Berapa lama?" Aku bertanya tanpa memandangnya.
" Tiga bulan."
Tiga bulan bukan waktu yang lama. Dia pernah meniggalkanku selama 6 bulan dan aku bersabar menantinya dalam kesetiaan.
Tapi.. itu waktu kami masih pacaran. Belum ada status ikatan. Belum ada cicin di jari manis kami. Belum ada si kecil di dalam perutku.
"Ga bisa ditolak ya?" tanyaku bergetar dan dengan senyuman yang kaku.
Aku tahu pasti jawabannya, tapi masih berharap dia punya jawaban lain.
Dia tidak menjawab pertanyaanku. Malahan ia memandangku dengan tatapan sedih.
Ah, seharusnya aku tidak seperti ini. Seharusnya aku melepasnya dengan keberanian. Supaya ia bisa tenang saat bertugas.
Bukankah aku sendiri tahu bahwa ini adalah salah satu resiko menjadi istri seorang abdi negara. Seorang tentara.
" Maaf, ya sayang." Bisiknya sambil menarikku dalam pelukannya.
Aroma parfumnya yang bercampur dengan keringatnya menyeruak mengisi kepalaku. Aku menghirupnya dalam-dalam. Selama 3 bulan aku akan merindukan wangi ini.
" Ga apa kok. Beritanya agak mendadak aja. Kamu ga usah kuatir. Aku akan jaga diri. Ada ibu juga yang nemenin aku kan."
Ia melepaskan pelukkannya, tapi aku langsung menariknya kembali.
" Yang penting kamu harus pulang dengan selamat. Pulang pas di bocah udah brojol." bisikku penuh tekanan dan paksaan.
Ia tidak menjawab. Hanya memelukku semakin erat dan meninggalkan kecupan berkali-kali di kepalaku.
Aku anggap itu 'iya'.
*****
" Mereka itu bodoh atau bagaimana??!!"
Aku berteriak keras pada ibuku.
Bukan. Bukan membentaknya. Bukan marah padanya.
Aku marah pada dua orang yang datang tadi siang dan memberikan kabar pada ibu. Kabar yang harusnya aku dengar langsung, bukan dari ibu.
Dadaku penuh dan langsung ingin meledak saat ibu menceritakan semuanya dengan hati-hati.
Tidak. Bukan karna mereka tidak mengabarkan berita itu secara langsung padaku. Bukan itu.
Berita itulah yang membuatku marah.
Aku marah karna perasaanku benar. Kegelisahaanku benar. Aku tidak bisa mengakuinya.
Aku harap semua yang aku dengar tadi hanya omong kosong. Hanya gurauan yang keterlaluan.
Aku menatap wajah ibu yang perlahan menitikkan air mata. Matanya bengkak. Ia pasti menangis selama aku ada di luar membawa Matius imunisasi di rumah sakit.
" Ibu kenapa menangis?" tanyaku dengan suara tertahan.
" Mereka tidak menemukan mayat. Bagaimana bisa mereka bilang sudah meninggal?"
Mendengar kata-kataku ibu semakin keras menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Ibu, aku bukan janda. Suamiku ada di luar sana. Ibu jangan menangis. Mereka hanya belum menemukannya."
Iya, pasti begitu...
Aku masuk ke kamar dan meninggalkan ibu yang menangis semakin keras. Aku tak mau ikut berduka dengannya karena memang tidak ada yang perlu aku dukakan.
Lebih baik aku memikirkan Matius. Sebentar lagi dia pasti bangun. Usianya sudah 9 bulan dan sangat pintar. Walau hanya lewat foto, ia bisa tahu siapa ayahnya.
****
" Bu, besok kita jadi ke tempat ayah?" Matius berlari ke arahku dan memelukku dari belakang dengan penuh antusias. Ia melingkarkan tangannya di leherku lalu mengecup pipiku dengan sayang.
Usianya sudah 6 tahun. Pintar bicara seperti ayahnya. Wajahnya persis sama seperti ayahnya waktu kecil. Hanya tahi lalat di keningnya yang membedakan ia dengan ayahnya.
" Iya, jadi." Jawabku pelan sambil membalas ciumannya dan kembali berkutat dengan kesibukanku memotong sayuran.
" Ius mau tunjukin gambar Ius ke Ayah ya buuu..."
Matius menunjukkan hasil gambarnya padaku dengan penuh semangat. Gambar aku yang menggandengnya dengan ayahnya yang melayang di atas dengan sayap.
" Iya, Ayah pasti senang."
Matius langsung berlari kembali ke ruang keluarga dan sibuk dengan pensil warnanya. Ia menambahkan beberapa detail pada gambarnya sambil bersenandung ria.
Entah harus berapa lama lagi aku bertahan. Berpura-pura mengakui kau sudah tiada.
Sayang, percayalah aku menganggapmu sudah tidak ada hanya supaya mereka melepaskanku dari rumah sakit itu. Mereka memberiku banyak obat. Mereka pikir aku akan membahayakan Matius. Padahal aku hanya ingin membawa dia padamu.
Sayang, aku harap kau segera pulang. Aku lelah membawa Matius ke kubur kosong itu. Mereka menguburkan peti kosong dan terus mengatakan kau sudah tak ada.
Mereka gila, tapi malah mengatakan aku yang gila karna aku tidak percaya kau sudah tak ada.
Cepatlah pulang, Sayang. Supaya aku berhenti bersandiwara. Supaya aku buktikan pada mereka bahwa aku benar.
" Ndukkk!!!"
Aku tersontak mendengar jeritan ibu. Bergegas aku berlari menemuinya di ruang tamu. Ia menahan mulutnya dengan kedua tangan dan wajahnya tampak pucat pasi. Matanya terbelalak seperti akan keluar.
Aku mengikuti arah pandangannya dan seketika sekujur tubuhku terasa mati rasa. Aku tidak bisa bergerak. Otakku seperti tidak bisa berpikir. Aku ingin muntah.
Dia menatapku penuh permohonan maaf. Kulitnya yang hitam legam membuatku hampir tak mengenalinya. Setengah wajahnya rusak oleh bekas-bekas luka. Tapi tatapan matanya tak mungkin membuatku salah mengenalinya.
" Maaf..." katanya terdengar begitu jauh.
" Maaf..." katanya lagi dengan suara bergetar.
Aku ingin bicara. Tapi bibirku kelu. Aku melihatnya menjatuhkan tasnya yang usang dan berlari ke arahku. Tangannya yang hitam legam... Itu hanya 1 tangan... Satu tangan itu meraihku dan langsung memelukku erat.
Aroma keringat menyeruak memenuhi kepalaku. Bukan parfum yang wangi, tapi aku tahu aroma ini.
Bertahun-tahun aku tak menangis, hari ini air mataku mengalir deras. Aku menjerit menumpahkan sesak di dadaku. Aku ingin muntah. Aku ingin marah, tapi aku bahagia.
Tuhan, aku pikir aku gila.... Dia pulang.

Friday, June 19, 2015

Sesal

"Bukan begitu caranya! Aduh, kamu kok ga ngerti-ngerti sihh! Sini Mama aja yang beresin!"

Aku melepaskan ujung seprai yang sudah siap-siap aku rapihkan. Mama menyambarnya dan mulai membereskan tempat tidurku. Aku mengamatinya dan hanya diam, berdiri di tempat.

Entah aku harus senang atau sebal. Senang karena akhirnya tidak perlu membereskan tempat tidur sendiri atau sebal karena Mama tidak pernah membiarkanku menyelesaikan tugasku sendiri. Ia akan selalu mengoreksi lalu mengambil alih.

Wednesday, March 12, 2014

Tanpa Batas

Arya mengacak-acak rambutnya dengan kesal. Layar putih di hadapannya masih saja kosong melompong. Setiap kata yang dituliskannya terasa salah.
Di kepalanya berputar-putar kaedah penulisan, nilai-nilai moral, tata krama dalam berbahasa. Dia harus menulis dengan 'lurus', hanya itu yang ia pikirkan.
Tapi, setiap kali ia ingin menulis, kenapa aturan-aturan itu seperti tembok tinggi yang menghalangi pandangannya? Ia tidak punya khayalan lagi, tidak ada gambaran dalam kepalanya. Hanya tembok yang tinggi dan tebal.
" Ah, apa peduliku!" Satu kalimat ia ucapkan dan tuliskan. Ia tuangkan kegusarannya, amarahnya karena naskahnya terus ditolak, putus asanya karena merasa tidak pernah bisa menulis dengan indah.
Ya, kali ini ia jujur pada tulisannya. Tanpa aturan, tanpa batasan. Hanya ada dia dan tulisannya.

amsaLFoje via Blogaway

Pengapit







Hari ini kau bergaun putih dengan rambut tertata indah di bahumu bak seorang dewi. Rangkaian bunga yang ada di tanganmu bahkan tidak dapat menyaingi silaunya pesonamu.

Wednesday, March 5, 2014

Lou Untuk Bella




Bella tersenyum lebar menyambut sosok yang berlari terburu-buru ke arahnya. Kakinya sudah pegal karena berdiri 1 jam menunggu sosok itu. Sosok yang selalu menjadi kesayangannya.

Lou, si cowo cuek yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka duduk di bangku TK. Persahabatan yang tidak berubah. Bahkan sampai usia mereka menginjak 23 tahun.

Lima Tahun

Sudah lima tahun ya, Ka? Sejak kau berikan surat warna biru laut itu padaku. Aku menerimanya dengan dada yang penuh dan berdebar-debar. Aku ingin segera tahu isinya.
Surat itu tanda perpisahan kita, tapi merupakan awal yang baru bagiku. Awal dimana aku tidak berhenti untuk mengasihimu.
Kau masih ingat isinya, Ka? Kau menuliskan isi hatimu dengan begitu penuh perasaan padaku. Tulisanmu yang seperti rumput bergoyang, tidak mengurangi maksud dari setiap kalimatmu. Kau membuatku berbunga.
Ternyata aku tidak patah hati. Kita punya perasaan yang sama. Setiap perlakuanmu padaku dan semua yang kita lewati bersama, ternyata benar-benar menunjukkan isi hati kita.
Itu lima tahun lalu Ka. Saat kau belum meninggalkanku pergi ke negeri orang. Dengan janji kau akan menyuratiku lagi, tapi aku tidak menerima surat keduamu sampai hari ini.
Kau dimana Ka? Semua orang tidak tahu keberadaanmu, bahkan orang-orang terdekatmu sedang menunggu kabarmu.
Lima tahun Ka. Hatiku masih merasakan bunga-bunga itu setiap kali membaca suratmu. Hatiku masih sama. Perasaanku masih sama. Apakah aku harus menunggu lima tahun lagi Ka?

amsaLFoje via Blogaway

Wednesday, February 26, 2014

Bukan Kebanggaanmu

Aku menggenggam erat piala ditanganku dan memandang wajah lelah dihadapanku dengan memelas. Aku berharap ia melihat untuk sekali ini saja apa yang ada di tanganku. Merasakan apa yang aku rasakan. Kebanggaan.
Mulutnya masih terkunci. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menopang badannya dengan tongkat kayu berkepala elang. Matanya yang menunjukkan betapa ia telah melihat kejamnya dunia, memandangku lurus dan dingin.
" Eyang tidur duluan." Hanya itu yang ia ucapkan. Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Langkahnya yang begitu pelan sering kali membuatku datang padanya dengam segera, hanya untuk menuntunnya. Tapi kali ini tidak. Ditengah-tengah sesaknya napasku mendapatkan reaksi Eyang, aku tidak bersimpati pada ketidak berdayaannya.
Piala yang ada ditanganku tidak bisa membanggakannya. Piala yang kubanggakan tidak bisa menyenangkan hatinya. Ia ingin aku berhenti mencintai musik, tapi aku tidak bisa. Nyanyian hatiku tidak bisa kuhentikan.
Eyang, satu-satunya keluargaku, sampai hari ini pun aku masih seperti anakmu, tidak bisa berhenti mencintai musik. Maaf Eyang... aku tidak bisa jadi seperti yang Eyang mau.
Kuletakkan piala di tanganku di atas meja tamu. Esok pagi Eyang akan melihatnya dan terserah beliau akan diapakan simbol kebangganku itu.

amsaLFoje via Blogaway

Selalu..

Tarikan napasnya begitu berat. Matanya memerah menahan tangis yang ingin ia sembunyikan. Harga dirinya runtuh.
Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Berita yang ia bawa mematahkan hatiku, tapi hatiku lebih patah lagi melihatnya begitu hancur.
" Tidak apa-apa. Pasti akan ada jalan kelûar," aku berbisik pelan. Kubelai pipinya dan mengecupnya lembut. Aku ingin tahu kalau apa yang kukatakan itu benat. Semuanya akan baik-baik saja.
" Tapi bagaimana nanti kita akan makan??"
Aku menggenggam tangannya lebih erat lagi. Kupeluk bahunya dan mengusap punggunya, sama seperti saat-saat tenang di malam hari yang selalu kami lewati bersama.
" Kalau kemarin kita bisa melewati masalah, hari ini pasti juga," kutatap mata nya dalam untuk meyakinkannya lagi.
Aku membelai rambutnya, sayang. Aku ingin dia tahu, aku menjadi istrinya bukan karena uangnya atau kedudukannya. Hari ini, saat ia terpuruk aku akan selalu bersamanya. Selalu mencintainya.

amsaLFoje via Blogaway

Dimulai Dari Rasa Hambar

Ia menelan makanan itu dengan susah payah. Tidak ada rasa dan benar-benar hambar. Dua wajah yang disayanginya menatapnya dengan penuh simpati.

Ah, mereka menelan makan yang sama. Makanan yang hambar dan tanpa rasa. Padahal bisa saja mereka makan makanan lain.

" Ga enak ya, Pa?" tanya Gita, putri semata wayangya dengan wajah yang mengerut, prihatin.
" Ga ada rasa.." bisiknya, pelan. Manda, istrinya menatapnya tak kalah prtihatin.
" Maaf, ya Pa.." ujar Manda sambil menyentuh lengannya, menguatkan.

Ia menggeleng tidak setuju dengan permintaan maaf istrinya. Justru ia yang harus minta maaf. Karena penyakitnya, keluarganya harus ikut merasakan ketidak nyamanan ini.

Dulu hampir setiap hari ia marah-marah pada anak dan istrinya karena penyakit darah tingginya. Sekarang, saat ingin menyembuhkan diri, mereka harus ikut merasakan makanan yang hambar. Rasanya akan sangat keterlaluan kalau ia sampai tidak menghargai pengorbanan mereka.

Ia menyendok nasi yang telah dibasahi kuah sayur dan mulai melahap makanan di piringnya. Ia bertekad untuk bisa sehat dan memberi yabg terbaik untuk keluarganya. Dimulai dari menikmati makanan hambar ini.

Manda dan Gita yang melihat dirinya makan dengan lahap langsung tersenyum cerah. Dengan penuh semangat mereka menikmati makanan di pirinh mereka dengan penuhj ucapan syukur karena imam mereka punya semangat untuk hidup sehat.

Rasa hambar ini tidak akan seberapa mereka rasakan demi melihat orang yang mereka cintai bisa selalu tersenyum dan berumur panjang. Dukungan yang tidak akan pernah habis untuknya, dimulai dari makanan hambar ini.


amsaLFoje via Blogaway