Showing posts with label flash fiction. Show all posts
Showing posts with label flash fiction. Show all posts

Friday, June 24, 2016

Ketahuan

Mungkin ini bukan cinta. Hanya obsesi atau mungkin ambisi.
Aku sudah berusaha berpaling darimu. Tapi, entah mengapa sulit bagiku.
Kamu..
Seperti bagian dari diriku. Seperti potongan puzzle yang selama ini aku cari.
Cara berpikirmu. Caramu merasa. Caramu bercanda. Bahkan caramu tertawa.... Mengapa terasa begitu nyaman bagiku?
Aku tidak merasakannya pada yang lain. Aku tidak menemukannya dari yang lain. Tidak. Mengapa aku tidak bisa menemukannya??
Kau tahu??
Setiap kali menyadari keberadaanmu, jantungku melompat kegirangan hingga terasa pedih dan tersayat.
Apakah aku menginginkanmu?
Aku tidak tahu
Aku hanya tahu, aku nyaman ada di dekatmu
Aku ingin berlama-lama di sisimu
Tapi tentu saja tidak bisa yaa..
Hanya kesempatan-kesempatan ini yang bisa membuat aku bisa ada di dekatmu
Walau kesempatan ini selalu menyakitkan
Dan mungkin..
Inilah saat yang paling menyakitkan..
Sudahlah..
Aku akan melepaskan rasa ini
Aku akan meninggalkan kerinduan ini
Bukan
Bukan aku menginginkanmu jadi milikku
Aku hanya nyaman ada di dekatmu
Seolah kau belahan jiwa yang kucari
Kenyataannya tidak demikian...
Sayangnya tidak demikian...
******
"Tania, makasih ya buat acaranya. Keren banget. Tim kamu bekerja dengan sangat luar biasa."
Aku berpaling pada suara renyah itu dan tersenyum puas. Satu pelanggan dipuaskan atas pelayanan tim kami.
"Sama-sama, Dan. Sudah jadi kewajiban kami tentunya."
" Sekali lagi thank you yaaa."
Danu menyalam tanganku erat. Yang artinya sebagai perpisahan.
"Happy Wedding.." aku tersenyum lebar walau terasa pahit di lidahku.
Danu mundur perlahan seolah agak berat memalingkan wajahnya. Dia membuatku agak grogi dengan tindakannya itu. Akhirnya ia melambaikan tangannya dan berbalik menghampiri bidadarinya.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku..
Aku tak tahu apa...
****
Wajah itu lagi..
Mengapa kau memandangnya dengan cara itu? Pahitkah hatimu melihatnya?
Berkali-kali aku menemukan matamu memandangnya dari kejauhan. Aku tak mengerti artinya. Tapi aku tahu di sana ada kesedihan.
Apakah kau jatuh cinta padanya? Apakah kau menginginkannya? Tapi dia sudah menikah. Ya, hari ini lebih tepatnya.
Sudahkah kau melepaskannya? Atau kau masih berharap?
Kau menundukkan kepalamu dalam saat ia sudah keluar dari ballroom. Kau menarik napas dalam seolah paru-parumu tertindih begitu berat.
Katakan padaku..
Aku ingin tahu..
Apa yang ada di hatimu
Pikiranmu..
Apakah kau menginginkannya??
Apakah kau mencintainya??
Aku ingin tahu..
*****
Aku melepaskanmu..
Tania lepaskan dia..
Lepaskan dia..
Biar dia hanya menjadi kenangan indah.
Kenangan indah yang tidak perlu disimpan lama.
Aku menarik napasku dalam dan tak kusangka begitu sesak dan berat. Sebegitu berpengaruhnya dirimu terhadapku ternyata.
Aku tak menyangka..
Aku berbalik ke arah ruang tunggu untuk membereskan barang-barang tim WO kami dan tersentak. Di sana Ryan berdiri bersandar di pintu menatapku tajam dan penuh selidik.
Apakah aku kepergok??
Ryan tersenyum kaku padaku dan pastinya itu artinya ia melihat semuanya. Ekspresiku? Caraku menatap Danu? Caraku menarik napas? Apa saja yang dia lihat??
" Sudah selesai."
Tiba-tiba Ryan bicara. Aku tak mengerti apa maksud "sudah selesai". Dia bicara tentang perasaanku pada Danu atau tentang acara hari ini? Aku akan menganggapnya sebagai "acaranya sudah selesai".
" Iya, thank you ya buat kerja bagusnya!! Akhirnya kita bisa istirahat." Ujarku penuh semangat. Berusaha melepaskan ketegangan dibahuku.
Aku..malu kalau Ryan benar-benar memergoki perasaanku. Rahasia terdalamku.
"Yuk, pulang!!" Aku berjalan melewati Ryan untuk masuk ke ruang tunggu, mengambil tasku.
Singkat, tapi begitu memukul, tiba-tiba Ryan menepul bahuku mantap.
" Lo akan baik-baik aja." Ia tersenyum lebar. Tatapannya penuh keyakinan mendukungku.
Mulutku terbuka ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Ryan masih memandangku penuh keyakinan. Seolah keyakinan itu mengalir ke dalam hatiku, aku pun merasa aku akan baik-baik saja.
"Thanks.." bisikku pelan.
Tidak banyak kata-kata yang kami ucapkan saat aku dan Ryan melangkah masuk ke ruang tunggu bergabung dengan tim kami. Dengan suara pelan dan dalam ia menceritakan patah hatinya yang pertama di kelas 5 SD.
Jadi, dia pikir aku patah hati?? Ya, mungkin saja...
Tiba-tiba saja beban itu hilang. Tindihan di dada itu lenyap.
Karna seseorang memergokiku "patah hati"...
Aku ketahuan...
Dan dia tidak diam...
Terima kasih...

Saturday, June 4, 2016

Aku Gila

"Berapa lama?" Aku bertanya tanpa memandangnya.
" Tiga bulan."
Tiga bulan bukan waktu yang lama. Dia pernah meniggalkanku selama 6 bulan dan aku bersabar menantinya dalam kesetiaan.
Tapi.. itu waktu kami masih pacaran. Belum ada status ikatan. Belum ada cicin di jari manis kami. Belum ada si kecil di dalam perutku.
"Ga bisa ditolak ya?" tanyaku bergetar dan dengan senyuman yang kaku.
Aku tahu pasti jawabannya, tapi masih berharap dia punya jawaban lain.
Dia tidak menjawab pertanyaanku. Malahan ia memandangku dengan tatapan sedih.
Ah, seharusnya aku tidak seperti ini. Seharusnya aku melepasnya dengan keberanian. Supaya ia bisa tenang saat bertugas.
Bukankah aku sendiri tahu bahwa ini adalah salah satu resiko menjadi istri seorang abdi negara. Seorang tentara.
" Maaf, ya sayang." Bisiknya sambil menarikku dalam pelukannya.
Aroma parfumnya yang bercampur dengan keringatnya menyeruak mengisi kepalaku. Aku menghirupnya dalam-dalam. Selama 3 bulan aku akan merindukan wangi ini.
" Ga apa kok. Beritanya agak mendadak aja. Kamu ga usah kuatir. Aku akan jaga diri. Ada ibu juga yang nemenin aku kan."
Ia melepaskan pelukkannya, tapi aku langsung menariknya kembali.
" Yang penting kamu harus pulang dengan selamat. Pulang pas di bocah udah brojol." bisikku penuh tekanan dan paksaan.
Ia tidak menjawab. Hanya memelukku semakin erat dan meninggalkan kecupan berkali-kali di kepalaku.
Aku anggap itu 'iya'.
*****
" Mereka itu bodoh atau bagaimana??!!"
Aku berteriak keras pada ibuku.
Bukan. Bukan membentaknya. Bukan marah padanya.
Aku marah pada dua orang yang datang tadi siang dan memberikan kabar pada ibu. Kabar yang harusnya aku dengar langsung, bukan dari ibu.
Dadaku penuh dan langsung ingin meledak saat ibu menceritakan semuanya dengan hati-hati.
Tidak. Bukan karna mereka tidak mengabarkan berita itu secara langsung padaku. Bukan itu.
Berita itulah yang membuatku marah.
Aku marah karna perasaanku benar. Kegelisahaanku benar. Aku tidak bisa mengakuinya.
Aku harap semua yang aku dengar tadi hanya omong kosong. Hanya gurauan yang keterlaluan.
Aku menatap wajah ibu yang perlahan menitikkan air mata. Matanya bengkak. Ia pasti menangis selama aku ada di luar membawa Matius imunisasi di rumah sakit.
" Ibu kenapa menangis?" tanyaku dengan suara tertahan.
" Mereka tidak menemukan mayat. Bagaimana bisa mereka bilang sudah meninggal?"
Mendengar kata-kataku ibu semakin keras menangis. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Ibu, aku bukan janda. Suamiku ada di luar sana. Ibu jangan menangis. Mereka hanya belum menemukannya."
Iya, pasti begitu...
Aku masuk ke kamar dan meninggalkan ibu yang menangis semakin keras. Aku tak mau ikut berduka dengannya karena memang tidak ada yang perlu aku dukakan.
Lebih baik aku memikirkan Matius. Sebentar lagi dia pasti bangun. Usianya sudah 9 bulan dan sangat pintar. Walau hanya lewat foto, ia bisa tahu siapa ayahnya.
****
" Bu, besok kita jadi ke tempat ayah?" Matius berlari ke arahku dan memelukku dari belakang dengan penuh antusias. Ia melingkarkan tangannya di leherku lalu mengecup pipiku dengan sayang.
Usianya sudah 6 tahun. Pintar bicara seperti ayahnya. Wajahnya persis sama seperti ayahnya waktu kecil. Hanya tahi lalat di keningnya yang membedakan ia dengan ayahnya.
" Iya, jadi." Jawabku pelan sambil membalas ciumannya dan kembali berkutat dengan kesibukanku memotong sayuran.
" Ius mau tunjukin gambar Ius ke Ayah ya buuu..."
Matius menunjukkan hasil gambarnya padaku dengan penuh semangat. Gambar aku yang menggandengnya dengan ayahnya yang melayang di atas dengan sayap.
" Iya, Ayah pasti senang."
Matius langsung berlari kembali ke ruang keluarga dan sibuk dengan pensil warnanya. Ia menambahkan beberapa detail pada gambarnya sambil bersenandung ria.
Entah harus berapa lama lagi aku bertahan. Berpura-pura mengakui kau sudah tiada.
Sayang, percayalah aku menganggapmu sudah tidak ada hanya supaya mereka melepaskanku dari rumah sakit itu. Mereka memberiku banyak obat. Mereka pikir aku akan membahayakan Matius. Padahal aku hanya ingin membawa dia padamu.
Sayang, aku harap kau segera pulang. Aku lelah membawa Matius ke kubur kosong itu. Mereka menguburkan peti kosong dan terus mengatakan kau sudah tak ada.
Mereka gila, tapi malah mengatakan aku yang gila karna aku tidak percaya kau sudah tak ada.
Cepatlah pulang, Sayang. Supaya aku berhenti bersandiwara. Supaya aku buktikan pada mereka bahwa aku benar.
" Ndukkk!!!"
Aku tersontak mendengar jeritan ibu. Bergegas aku berlari menemuinya di ruang tamu. Ia menahan mulutnya dengan kedua tangan dan wajahnya tampak pucat pasi. Matanya terbelalak seperti akan keluar.
Aku mengikuti arah pandangannya dan seketika sekujur tubuhku terasa mati rasa. Aku tidak bisa bergerak. Otakku seperti tidak bisa berpikir. Aku ingin muntah.
Dia menatapku penuh permohonan maaf. Kulitnya yang hitam legam membuatku hampir tak mengenalinya. Setengah wajahnya rusak oleh bekas-bekas luka. Tapi tatapan matanya tak mungkin membuatku salah mengenalinya.
" Maaf..." katanya terdengar begitu jauh.
" Maaf..." katanya lagi dengan suara bergetar.
Aku ingin bicara. Tapi bibirku kelu. Aku melihatnya menjatuhkan tasnya yang usang dan berlari ke arahku. Tangannya yang hitam legam... Itu hanya 1 tangan... Satu tangan itu meraihku dan langsung memelukku erat.
Aroma keringat menyeruak memenuhi kepalaku. Bukan parfum yang wangi, tapi aku tahu aroma ini.
Bertahun-tahun aku tak menangis, hari ini air mataku mengalir deras. Aku menjerit menumpahkan sesak di dadaku. Aku ingin muntah. Aku ingin marah, tapi aku bahagia.
Tuhan, aku pikir aku gila.... Dia pulang.

Tuesday, February 16, 2016

Putus

PIXABAY


Berapa lama lagi aku harus menunggu? Berapa kali lagi aku harus mengerti?

Mereka bilang cinta itu sabar. Seberapa sabar?

Mereka bilang cinta itu penuh pengertian. Sejauh apa aku harus mengerti??

Aku meremas rokku yang sudah basah oleh air hujan. Payung tak bisa lagi menahan air hujan yang membasahi setiap sudut kota Jakarta.

Lagi..lagi aku menunggunya. Menunggu seperti orang bodoh. Tanpa kabar. Tanpa berita.

"Kita ketemu di Cafe Situ jam 7 yaa." Begitu katanya.

Dengan penuh semangat dan harapan aku tiba di sini setengah 7. Tentu saja dia belum muncul.

Katanya, "Ini sebagai permintaan maafku. Aku akan traktir kamu."

Suaranya begitu mesra membujuk. Lalu.. Aku percaya. Ya tentu saja aku percaya pada kata-kata cinta selalu memberi kekuatan untuk selalu bersabar.

Tapi... Apa aku harus bersabar lagi? Ini sudah pukul 9 malam. Aku menunggunya dengan sabar. Aku menghubunginya berkali-kali. Tidak diangkat. Aku chat, tidak dibaca.

Apakah di mempermainkanku??

Aku lelah menunggu. Aku selalu menunggunya. Sejam. Dua jam.

Ia bilang ia sedang bersama teman-temannya. Lain hari ada temannya minta diantar. Lain hari lagi ia harus latihan band.

Aku selalu mengerti. Karna memang aku hanya perempuan kuper yang tidak banyak kegiatan. Waktuku begitu luang. Tidak seperti dirinya yang dalam satu minggu, 7 hari, 24 jam selalu punya kegiatan.

Mungkin kami memang bukan pasangan yang seimbang. Mungkin aku memang tidak pantas mendampinginya. Mungkin aku.... Kami... putus saja...

Aku..
Aku hanya seperti perempuan gila yang mengekornya dari belakang. Berharap ia menoleh lalu mengulurkan tangan membawaku pergi bersamanya. Tapi, dia seorang seniman. Hatinya tidak pernah terikat pada 1 hati. Tidak.

Sampai hari ini... aku masih sama. Perempuan gila yang mengejarmu dari belakang. Yang tidak akan kau anggap sebagai sesuatu yang pantas kau pertahankan... aku....

******

Lagi.. lagi aku membuatnya menunggu. Kali ini di bawah hujan deras. Ia basah kuyup. Ia tertunduk dengan bahu yang lemah.

Lagi-lagi aku melakukannya. Membuatnya menungguku. Saat aku sibuk dengan teman-temanku, saat aku asik memainkan gitarku atau bercanda dengan teman-teman perempuanku.

Dia selalu menungguku dengan sabar. Sering kali ia tetap tersenyum sekali pun aku terlambat 1 jam, 2 jam. Dia sabar menghadapiku.

Apakah kali ini dia akan sama? Saat aku mulai menyadari, hanya dia yang selalu menungguku. Hanya dia yang selalu menyambutku dengan segala kegagalanku sebagai manusia. Sebagai seorang pria.

Bouqet mawar putih di tanganku telah hancur oleh hujan dan angin. Kotak cincin di kantongku tak lagi berharga karna aku kehilangan isinya.

Dua jam aku menerobos hujan dan kemacetan Jakarta. Berharap aku tidak terlambat.

Tapi..
Aku terlambat lagi. Dia di situ menungguku dalam dinginnya malam dan hujan.

Aku mendekat dan ia mengangkat kepalanya. Biasanya wajah itu tersenyum lebar menyambutku, tapi kali ini dia diam. Matanya tampak kosong menatapku.

"Maaf. Aku terlambat." Seruku melawan suara hujan. Aku mengulurkan bouqet mawar yang sudah tak berbentuk.

Maafku...
Entah maaf yang sudah ke berapa. Biasanya aku yakin ia akan memaafkanku, tapi kali ini...

"Selesai..." bisiknya membuatku terpaku.

Apanya yang selesai? Pertanyaan yang tak bisa kuucap. Tapi cukup untuk membuat jantungku melorot.

Apakah maksudnya selesai adalah 'itu'? Aku tidak mau berasumsi.

Ia melangkah mendekatiku, mengambil biuqet dari tanganku dan berbisik tajam. Bahkan suara hujan seperti hilang tiba-tiba.

"Kita putus."

Dia melewatiku. Mengangkat tangannya menghentikan bus umum yang lewat. Itu bukan bus jurusan ke arah rumahnya.

Dia mau ke mana??

Putus??

Kata itu mulai membuat perutku mulas.
Aku hanya bisa berdiri di tengah hujan. Mengulang kata-kata itu di kepalaku.

Putus.

Apakah akhirnya aku kehilanganmu??


Jakarta,16022016